Emiten Properti: Intiland Development (DILD) Raih Pendapatan Rp2,4 Triliun

Emiten properti PT Intiland Development Tbk. berhasil membukukan pendapatan usaha mencapai Rp2,4 triliun sepanjang tahun berjalan yang berakhir pada 30 September lalu. Capaian tersebut naik sebesar 40% dibandingkan periode yang sama tahun lalu yakni senilai Rp1,7 triliun.
Tegar Arief | 01 November 2018 10:00 WIB
CEO PT Intiland Development Tbk Hendro Gondokusumo (dari kiri) berbincang dengan Direktur Pemasaran Susan Pranata, dan Direktur Pengelolaan Modal dan Investasi Archied Noto Pradono di sela-sela konferensi pers, di Senayan City, Jakarta, Kamis (12/10). - JIBI/Endang Muchtar

Bisnis.com, JAKARTA - Emiten properti PT Intiland Development Tbk. berhasil membukukan pendapatan usaha mencapai Rp2,4 triliun sepanjang tahun berjalan yang berakhir pada 30 September lalu. Capaian tersebut naik sebesar 40% dibandingkan periode yang sama tahun lalu yakni senilai Rp1,7 triliun.

Direktur Pengelolaan Modal dan Investasi Intiland Archied Noto Pradono menjelaskan, peningkatan pendapatan usaha salah satunya ditopang oleh adanya pengakuan dari penjualan tanah yang masuk kategori bukan bisnis inti. Penjualan tanah ini tercatat di segmen pengembangan kawasan perumahan.

Kontributor lainnya berasal dari sejumlah proyek perumahan seperti Serenia Hills Jakarta, Graha Famili, Graha Natura Surabaya, Talaga Bestari, dan Magnolia Residence di Tangerang.

"Pengembangan kawasan perumahan mampu memberikan kontribusi Rp1,2 trilun atau sekitar 50% dari keseluruhan pendapatan usaha. Kalau dibandingkan tahun lalu, pendapatan usaha di segmen ini naik 255%," katanya, Rabu (31/10/2018).

Adapun segmen pengembangan mixed-use dan high rise mencatatkan kontribusi pendapatan usaha senilai Rp729,1 miliar atau 30% dari total pendapatan emiten bersandi saham DILD tersebut.

Sedangkan dari segmen pengembangan kawasan industri yang berasal dari penjualan lahan di Ngoro Industrial Park di Mojokerto, perseroan memperoleh pendapatan usaha senilai Rp54,7 miliar, atau berkontribusi sebesar 2%.

Segmen properti investasi perseroan yang merupakan sumber pendapatan berkelanjutan mencatatkan kontribusi pendapatan usaha sebesar 18% atau setara dengan Rp430,6 miliar. Nilai pendapatan ini meningkat 24,5% dari pencapaian pada periode yang sama 2017 yakni Rp345,9 miliar.

Archied menambahkan, meningkatnya pendapatan dari segmen properti investasi ditopang oleh naiknya pendapatan sewa ruang perkantoran. Selain itu, pendapatan dari segmen ini bersumber dari penyewaan ruang ritel, pergudangan, serta pengelolaan klub olahraga, dan lapangan golf.

"Recurring income sebagian besar bersumber dari pengelolaan sarana dan prasarana, perkantoran, dan kawasan industri," imbuhnya.

Berdasarkan tipe sumber pendapatan usahanya, pendapatan pengembangan (development income) memberikan kontribusi sebesar 82% atau Rp2 triliun. Sisanya berasal dari segmen recurring income yang tercatat sebesar Rp430,6.

Kata Archied, pendapatan usaha tahun ini lebih baik dibandingkan dengan tahun lalu, di mana banyak proyek yang masuk tahap penyelesaian, sehingga hasil penjualan bisa sepenuhnya dibukukan sebagai pendapatan.

Profitabilitas Turun

Meskipun pendapatan usaha meningkat, kinerja profitabilitas perseroan pada 9 bulan 2018 mengalami tren penurunan. Perseroan mencatatkan perolehan laba kotor senilai Rp719 miliar atau meningkat tipis dibandingkan periode yang sama tahun 2017 yang mencapai Rp706 miliar.

DILD membukukan laba usaha senilai Rp202,1 miliar atau turun 20,6% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Laba bersih perseroan tercatat mencapai Rp123 miliar, turun 47% dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang mencapai Rp233 miliar.

"Laba bersih turun terutama karena meningkatnya beban bunga pinjaman untuk modal kerja penyelesaian konstruksi proyekproyek. Faktor lainnya karena adanya penurunan margin laba kotor yang disebabkan adanya penjualan non-core asset dan meningkatnya beban penjualan," jelas Archied.

Dia memaparkan, kondisi pasar properti hingga akhir tahun ini masih cukup lesu. Ini akan menyebabkan kinerja penjualan tertekan seiring dengan belum pulihnya minat beli konsumen.

Dari sisi kinerja penjualan, DILD berhasil membukukan nilai marketing sales Rp1,6 triliun atau 46% dari target tahun ini. Perolehan tersebut lebih rendah 40% dibandingkan perolehan marketing sales per 30 September 2017 yang mencapai Rp2,7 triliun.

"Selain daya beli konsumen yang lemah, faktor lain yang menyebabkan penjualan turun adalah belum adanya peluncuran proyek baru selama sembilan bulan tahun ini," ujarnya.

Segmen pengembangan mixed-use dan high rise tercatat masih memberikan kontribusi marketing sales terbesar yakni senilai Rp1,1 triliun, atau 71%, dan segmen pengembangan kawasan perumahan mencapai Rp405 miliar atau 26%.

Penjualan terbesar di segmen ini berasal dari proyek Graha Natura di Surabaya dan Serenia Hills Jakarta. Adapun segmen pengembangan kawasan industry membukukan nilai marketing sales Rp45 miliar yang berasal dari penjualan lahan industri di Ngoro Industrial Park Mojokerto, Jawa Timur.

Menurut Archied, ditinjau dari lokasi pengembangannya, kontribusi marketing sales terbesar berasal dari proyek-proyek di Jakarta dan sekitarnya yang mencapai RpRp1,2 triliun atau 80%. Adapun sisanya berasal dari penjualan proyek-proyek di Surabaya yang mencapai Rp319 miliar atau 20%.

"Perseroan terus mencermati setiap tren perkembangan dan perubahan pasar. Perubahan minat beli konsumen, tren investasi, dan perkembangan kebijakan pemerintah, menjadi faktor-faktor yang akan mempengaruhi perkembangan pasar property tahun depan," kata dia.

Perseroan berharap kepercayaan pasar kepada sektor properti bisa segera pulih. Stabilitas kondisi makro ekonomi, tren penurunan suku bunga, dan relaksasi peraturan perpajakan serta penetapan peraturan kepemilikan properti bagi warga negara asing diyakini mampu menjadi katalis positif.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
kinerja emiten, intiland

Editor : Ana Noviani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top