Ini 144 Saham Murah, tapi bukan Murahan

Sebanyak 144 saham emiten atau 24% dari total 611 korporasi yang melantai di Bursa Efek Indonesia ternyata memiliki valuasi yang relatif murah dengan price to earning ratio (PER) di bawah 10 kali. 
Emanuel B. Caesario | 01 November 2018 12:40 WIB
Saham-saham murah ini layak dikoleksi. - Bisnis/Radityo Eko

Bisnis.com, JAKARTA — Sebanyak 144 saham emiten atau 24% dari total 611 korporasi yang melantai di Bursa Efek Indonesia ternyata memiliki valuasi yang relatif murah dengan price to earning ratio (PER) di bawah 10 kali. 

Saham murah menjadi topik headline koran cetak Bisnis Indonesia edisi Kamis (1/11/2018). Berikut laporannya.

Berdasarkan data Bloomberg, di antara 144 emiten tersebut terdapat empat emiten yang masih memiliki kapitalisasi pasar di atas Rp50 triliun atau masih termasuk emiten big caps. Keempatnya yakni PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI), PT Bayan Resources Tbk. (BYAN), PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk. (INKP), dan PT Adaro Energy Tbk. (ADRO).

Selain itu, masih ada 15 emiten lainnya yang memiliki nilai kapitalisasi pasar berkisar Rp10 triliun hingga Rp49,9 triliun, serta 62 emiten dengan kapitalisasi pasar antara Rp1 triliun hingga Rp9,9 triliun.

Jason Nasrial, Senior Vice President Royal Investium Sekuritas, mengatakan bahwa PER yang kecil bisa disebabkan oleh kinerja laba yang melemah, leverage atau utang yang tinggi, dan arus kas operasi yang negatif. PER adalah perbandingan antara harga saham dengan laba bersih perusahaan

Sektor properti, misalnya, masih menghadapi tren penurunan laba karena permintaan yang lemah di industrinya sehingga LPKR, LPCK, BSDE, MTLA, MDLN, ASRI, dan APLN masuk dalam daftar emiten dengan PER di bawah 10 kali.

Demikian juga sektor konstruksi seperti WSKT, ADHI, WTON, WIKA, TOTL mengalami penurunan PER sebab kinerja arus kas operasionalnya tertekan dan margin laba pun menipis.

Meskipun demikian, PER yang kecil juga dapat mengindikasikan harga yang terlalu murah, terutama pada emiten yang memiliki kinerja profit yang tumbuh konsisten dan lebih tinggi dibandingkan dengan sektor lain, seperti perbankan.

Laba BBNI dan BBTN pada kuartal III/2018, misalnya, masing-masing tumbuh 12,6% dan 11,51%. Namun, keduanya memiliki PER di bawah 10 kali. Demikian juga BBRI dan BMRI, memiliki PER antara 10­--15 kali, tetapi laba kuartal III/2018 tumbuh masing-masing 14,6% dan 20%.

“Ini yang menurut saya kemungkinan salah harga, padahal sektor perbankan mempunyai earning yang konsisten tumbuh dan predictable,” katanya, Rabu (31/10).

Dia menilai, PER yang rendah dapat menjadi indikator bagi investor untuk masuk, meskipun perlu tetap hati-hati.

Valdy Kurniawan, analis Phintraco Sekuritas, mengatakan PER yang sangat rendah bisa juga disebabkan minat investor yang tidak terlalu besar terhadap suatu emiten, meskipun kinerjanya baik.

Penyebabnya bisa beragam, seperti kinerja secara historis yang kurang baik atau tidak stabil, hingga faktor ketidakpercayaan pasar terhadap manajemen perusahaan. “Jadi, meskipun banyak sekali saham yang PER di bawah 10 kali, tetapi tidak serta merta semuanya layak beli,” katanya.

Kevin Juido, Kepala Riset Paramitra Alfa Sekuritas, mengatakan harga saham dikategorikan murah bila PER-nya lebih rendah dari rata-rata PER sektoral. Selain itu, investor perlu juga memperhatkan indikator price to book value (PBV).

Kevin mengingatkan investor agar tetap memperhatikan indikator fundamental serta prospek sektoral dari emiten yang dipilih.

Indra Prasetya, Head of Dealing Narada Asset Management, menegaskan beberapa emiten big caps dengan PER yang rendah mengindikasikan adanya peluang pembalikan harga, dari tren penurunan menuju peningkatan.

Tag : rekomendasi saham
Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top