Saham UNVR Selamatkan Muka IHSG dari Tamparan Global

Saham emiten konsumer sukses mendongkrak rebound Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan hari ini, Kamis (25/10/2018), saat aksi jual mendera pasar saham global.
Renat Sofie Andriani | 25 Oktober 2018 17:59 WIB
Karyawan melintas di dekat monitor Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Selasa (16/10/2018). - JIBI/Nurul Hidayat

Bisnis.com, JAKARTA — Saham emiten konsumer sukses mendongkrak rebound Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan hari ini, Kamis (25/10/2018), saat aksi jual mendera pasar saham global.

IHSG ditutup di zona hijau dengan kenaikan 0,80% atau 45,55 poin di level 5.754,96, mematahkan pelemahan yang dialami selama dua hari berturut-turut sebelumnya.

Padahal, indeks sempat melorot ke level 5.623 setelah melanjutkan pelemahannya dengan dibuka turun 1,39% atau 79,47 poin di posisi 5.629,95 pagi tadi. Namun indeks mampu rebound pada akhir sesi I dan terus menguat.

Sepanjang perdagangan hari ini, IHSG bergerak pada kisaran level 5.623,84 – 5.754,96. Adapun pada perdagangan Rabu (24/10), IHSG berakhir melorot 1,53% atau 88,47 poin di posisi 5.709,42.

Dari 610 saham yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI), sebanyak 167 saham menguat, 211 saham melemah, dan 232 saham stagnan.

Sebanyak delapan dari sembilan sektor menetap di wilayah positif, dipimpin industri dasar (+1,60%), konsumer (+1,21%), dan finansial (+0,96%). Adapun sektor perdagangan berakhir di zona merah meskipun hanya turun 0,07%.

Saham emiten konsumer PT Unilever Indonesia Tbk. (UNVR) yang naik 3,02% menjadi pendorong terbesar terhadap rebound IHSG hari ini, bersama sejumlah saham emiten perbankan ( lihat tabel).

“Perusahaan barang konsumsi di Indonesia dapat melaporkan pertumbuhan penjualan yang membaik pada kuartal ketiga, meskipun marjin dapat berisiko akibat depresiasi rupiah,” jelas Analis Morgan Stanley Divya Gangahar Kothiyal dan Nico Yosman, seperti dikutip Bloomberg.

Pertumbuhan konsumsi di Indonesia secara keseluruhan disebut tampak stabil atau meningkat pada kuartal ketiga.

PT Unilever Indonesia Tbk. sebelumnya dikabarkan berhasil membukukan laba bersih senilai Rp7,3 triliun hingga September 2018, atau meningkat 39,7% year on year dari posisi Rp5,22 triliun.

Sementara itu, penjualan bersih UNVR tercatat sebesar Rp31,5 triliun untuk periode sembilan bulan yang berakhir pada 30 September 2018. Adapun penjualan bersih spesifik pada kuartal III/2018 tercatat sebesar Rp10,3 triliun, atau meningkat 5,5% (tanpa menyertakan penjualan kategori spreads).

Sejalan dengan IHSG, indeks Bisnis 27 rebound dan mengakhiri pergerakannya dengan kenaikan 1,28% atau 6,35 poin di level 503,37, mematahkan koreksi yang dialami dua hari berturut-turut sebelumnya.

Sebaliknya, indeks saham lainnya di Asia mayoritas tertekan sore ini, di antaranya indeks FTSE Straits Time Singapura (-0,81%), FTSE Malay KLCI (-0,20%), dan indeks PSEi Filipina (-2,28%).

Indeks Topix dan Nikkei 225 Jepang masing-masing berakhir anjlok lebih dari 3%, indeks Kospi Korea Selatan melorot 1,63%, dan indeks Hang Seng Hong Kong ditutup melemah 1,01%.

Meski demikian, indeks Shanghai Composite dan CSI 300 China mampu mengakhiri pergerakannya di zona hijau masing-masing dengan kenaikan 0,02% dan 0,19%.

Secara keseluruhan, indeks MSCI Asia Pacific turun 2% pada pukul 4.30 sore waktu Hong Kong, memperpanjang penurunan menjadi sekitar 22% dari puncaknya yang dibukukan pada Januari.

Bursa saham Asia meluncur setelah indeks Nasdaq ditutup turun 12,4% dari rekor level penutupan tertingginya pada 29 Agustus sekaligus membukukan persentase penurunan harian terbesar sejak 18 Agustus 2011.

Pada perdagangan Rabu (24/10), indeks Nasdaq Composite ditutup terjerembap 4,43% di level 7.108,40, sedangkan indeks Dow Jones Industrial Average berakhir anjlok 2,41% di level 24.583,42 dan indeks S&P 500 terkulai 3,09% di 2.656,1.

Data menunjukkan penjualan rumah di AS turun ke level terendah dalam dua tahun pada bulan September. Ini menjadi tanda terbaru bahwa kenaikan suku bunga hipotek dan harga yang lebih tinggi membebani permintaan untuk perumahan.

“Data perumahan AS yang lesu, laporan laba perusahaan yang beragam, keresahan perang dagang, dan kekhawatiran mengenai ekonomi global yang melambat, semuanya berkontribusi terhadap aksi jual,” jelas Rivkin Securities dalam risetnya, seperti dikutip Reuters.

Saham-saham pendorong IHSG:

Kode

(%)

UNVR

+3,02

BMRI

+2,37

BBRI

+1,69

BBCA

+1,10

Saham-saham penekan IHSG:

 Kode

(%)

GGRM

-1,66

SMGR

-1,65

ADRO

-1,20

ISAT

-4,20

Sumber: Bloomberg

Tag : IHSG
Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top