Tekanan Global Seret Bursa Asia Sentuh Level Terendah

Bursa saham Asia menyentuh level terendahnya dalam 17 bulan pada perdagangan pagi ini, Selasa (9/10/2018), di tengah kegelisahan investor tentang ekonomi China, perang dagang, imbal hasil obligasi AS, dan disfungsi politik di Eropa.
Renat Sofie Andriani | 09 Oktober 2018 08:54 WIB
bursa asia

Bisnis.com, JAKARTA – Bursa saham Asia menyentuh level terendahnya dalam 17 bulan pada perdagangan pagi ini, Selasa (9/10/2018), di tengah kegelisahan investor tentang ekonomi China, perang dagang, imbal hasil obligasi AS, dan disfungsi politik di Eropa.

Indeks MSCI Asia Pacific, selain Jepang, melemah 0,15% setelah pada perdagangan Senin (8/10) berakhir di titik terendahnya sejak Mei tahun lalu. Sementara itu, indeks Nikkei Jepang melorot 1,1%, sebagian akibat tertekan penguatan mata uang yen.

“Sentimen untuk aset berisiko dalam suasana negatif dan saham tenggelam di mana-mana,” tulis analis JPMorgan dalam risetnya, seperti dikutip Reuters. “Ada banyak alasan dan banyak yang merupakan kelanjutan dari penurunan baru-baru ini.”

Fokus pasar kembali tertuju pada China, dengan indeks saham blue chips anjlok 4,3% pada Senin (8/10), penurunan harian terbesar sejak awal 2016. Penurunan tajam ini pun merembes ke sentimen di seluruh kawasan Asia.

“Putaran terakhir aksi jual di China tidak dapat dihentikan dan telah mengakibatkan bursa saham China mengalami awal terburuk mereka untuk Oktober dalam satu dekade,” kata Jameel Ahmad, kepala strategi mata uang global & riset pasar di FXTM.

“Kami telah melihat tren di masa lalu dimana penurunan pada China telah bergaung di pasar global lainnya. Jika yuan terus melemah, itu melukiskan gambaran potensi penurunan lebih lanjut untuk pasar negara berkembang.”

Nilai tukar yuan telah merosot terhadap dolar AS dalam tujuh pekan di tengah ekspektasi bahwa pemerintah China akan meneruskan pelonggaran kebijakan yang dilancarkan pada Minggu (7/10) dengan stimulus lebih lanjut.

Pada Senin (8/10), seorang pejabat senior Kementerian Keuangan AS menyatakan keprihatinan atas depresiasi yuan dan menambahkan bahwa masih tidak jelas apakah Menteri Keuangan Steven Mnuchin akan bertemu dengan pejabat China pekan ini.

Sementara itu, bank sentral AS Federal Reserve telah terdengar sangat bullish atas ekonomi AS dan sangat hawkish mengenai suku bunga. Spekulasi atas kenaikan suku bunga AS pun meningkat, sedangkan dolar AS naik.

Di sisi lain, biaya pinjaman Italia telah meningkat saat perselisihan meningkat antara pemerintah Italia dan Uni Eropa seputar rencana anggaran.

Imbal hasil pada obligasi pemerintah Italia bertenor 10 tahun naik lebih dari 20 basis poin menjadi 3,626%, tertinggi sejak Februari 2014, sedangkan indeks saham FTSE MIB Italia turun ke level terlemahnya sejak April 2017.

Tag : bursa asia
Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top