Dolar AS Terdongkrak Saat Mata Uang China Melemah

Pergerakan indeks dolar Amerika Serikat (AS) menguat pada perdagangan siang ini, Senin (8/10/2018), di tengah pelemahan mata uang China setelah bank sentral Negeri Panda mengambil langkah pelonggaran.
Renat Sofie Andriani | 08 Oktober 2018 14:59 WIB
Petugas kasir menghitung mata uang dolar Amerika Serikat di tempat penukaran uang, di Jakarta, Selasa (2/10/2018). - ANTARA/Indrianto Eko Suwarso

Bisnis.com, JAKARTA – Pergerakan indeks dolar Amerika Serikat (AS) menguat pada perdagangan siang ini, Senin (8/10/2018), di tengah pelemahan mata uang China setelah bank sentral Negeri Panda mengambil langkah pelonggaran.

Berdasarkan data Bloomberg, indeks dolar AS, yang melacak pergerakan greenback terhadap sejumlah mata uang utama di dunia menguat 0,18% atau 0,173 poin ke level 95,797 pada pukul 14.14 WIB.

Indeks dolar dibuka cenderung flat di level 95,620 sebelumnya, setelah pada perdagangan Jumat (5/10) berakhir turun 0,13% atau 0,127 poin di posisi 95,624.

Meski demikian, kenaikan indeks dibatasi minimnya likuiditas saat aktivitas perdagangan di Jepang ditiadakan karena libur nasional dan pasar obligasi AS jeda. Hampir sepanjang pekan lalu, dolar AS mendapat dukungan dari kenaikan yang tajam pada imbal hasil obligasi AS.

Dilansir Reuters, People’s Bank of China (PBOC) memutuskan untuk memangkas jumlah uang yang harus dicadangkan bank demi mendukung ekonomi Tiongkok.

Rasio cadangan wajib (RRR), yang saat ini 15,5% untuk pemberi pinjaman komersial besar dan 13,5% untuk bank yang lebih kecil, akan dipangkas sebesar 100 basis point efektif mulai 15 Oktober, terang PBOC dalam pernyataannya pada Minggu (7/10).

PBOC memangkas cadangan wajib bank untuk keempat kalinya tahun ini sebagai bagian dari upaya untuk mendukung pertumbuhan di tengah memanasnya perang perdagangan dengan AS.

Negeri Panda dihadapkan dengan kebutuhan yang lebih mendesak untuk mendukung ekonomi domestik, bahkan jika hal itu dapat meningkatkan tekanan pada mata uangnya.

“Pemangkasan cadangan terkini oleh China merupakan langkah lain untuk berupaya mendukung ekonomi domestik, di tengah tekanan dari tensi perdagangan,” jelas pakar strategi Westpac, Frances Cheung, seperti dikutip Reuters.

“Kami percaya pihak otoritas akan tidak masalah dengan sedikit pelemahan yuan, asalkan tidak akan mengundang spekulasi yang tidak perlu - tetapi ini adalah sesuatu yang tidak dapat mereka kendalikan.”

Meski tertekan, nilai tukar yuan memang tidak mengalami pelemahan seperti yang banyak dikhawatirkan. Nilai tukar yuan offshore China terpantau melemah 0,19% ke level 6,9081 per dolar AS pada pukul 14.25 WIB.

Setiap pelemahan pada yuan cenderung menyeret turun mata uang pasar negara berkembang lainnya karena perlu terdepresiasi untuk menjaga ekspor tetap kompetitif.

Sebaliknya, mata uang safe haven seperti yen Jepang dan dolar AS terangkat, terutama ketika imbal hasil AS meningkat.

Imbal hasil obligasi bertenor 10 tahun mencapai level tertingginya dalam tujuh tahun pada Jumat (5/10) setelah data menunjukkan penurunan tingkat pengangguran ke level terendahnya sejak 1969.

Posisi indeks dolar AS                                                                        

8/10/2018

(Pk. 14.14 WIB)

95,797

(+0,18%)

5/10/2018

95,624

(-0,13%)

4/10/2018

95,751

(-0,01%)

3/10/201

95,762

(+0,27%)

2/10/2018

95,507

(+0,22%)

Sumber: Bloomberg

 

Tag : dolar as
Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top