Bursa Global Tekan IHSG Pada Akhir Sesi I

Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah pada akhir sesi I perdagangan hari ini, Jumat (5/10/2018), di tengah pelemahan bursa Asia.
Renat Sofie Andriani | 05 Oktober 2018 13:26 WIB
Pengunjung berada di dekat papan elektronik yang menampilkan perdagangan harga saham, di Jakarta, Senin (10/9/2018). - JIBI/Dedi Gunawan

Bisnis.com, JAKARTA – Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah pada akhir sesi I perdagangan hari ini, Jumat (5/10/2018), di tengah pelemahan bursa Asia.

Berdasarkan data Bloomberg, IHSG melemah 0,35% atau 19,92 poin ke level 5.736,70 pada akhir sesi I, setelah dibuka turun 0,31% atau 18,02 poin di posisi 5.738,59.

Sepanjang perdagangan hari ini, IHSG bergerak pada level 5.706,40 – 5.758,27. Adapun pada perdagangan Kamis (4/10), IHSG ditutup merosot 1,89% di level 5.756,62.

Enam dari sembilan sektor pada IHSG tertekan di zona merah, dipimpin aneka industri (-1,18%) dan properti (-0,96%). Adapun sektor perdagangan yang naik 0,26% memimpin kenaikan di antara tiga sektor lainnya.

Sebanyak 119 saham menguat, 224 saham melemah, dan 261 saham stagnan dari 604 saham yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia siang ini.

Bersama IHSG, indeks saham lain di Asia Tenggara mayoritas melemah siang ini, dengan indeks FTSE Straits Time Singapura (-0,95%), indeks FTSE Malay KLCI (-0,43%), dan indeks PSEi Filipina (-0,06%).

Sementara itu, indeks Topix dan Nikkei 225 Jepang masing-masing turun 0,17% dan 0,52%, indeks Kospi Korea Selatan turun 0,33%, dan indeks Hang Seng Hong Kong turun 0,27%.

Secara keseluruhan, bursa saham Asia goyah pada perdagangan hari ini setelah imbal hasil Treasury AS melonjak ke level tertinggi barunya dalam tujuh tahun sekaligus mendorong kekhawatiran tentang inflasi dan risiko laju kenaikan suku bunga yang lebih cepat dari perkiraan.

Dilansir Reuters, imbal hasil obligasi Treasury AS bertenor 10 tahun naik ke level tertinggi dalam tujuh tahun terakhir sebesar 3,232%. Indeks saham regional MSCI Asia Pacific, selain Jepang, pun turun 0,3% siang ini.

“Imbal hasil Treasury yang meningkat pesat menggoyahkan pasar ekuitas di seluruh dunia, dengan saham teknologi mendorong penurunan,” kata Yasuo Sakuma, chief investment officer di Libra Investments.

Indeks volatilitas CBOE Global Markets melonjak setinggi 15,84 poin, tertinggi sejak 15 Agustus, sedangkan indeks volatilitas Nikkei naik setinggi 19,07, tertinggi dalam tujuh pekan.

Lonjakan imbal hasil Treasury juga mendorong kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah di seluruh dunia, dengan pengecualian besar Italia, di mana biaya pinjaman menurun setelah pemerintah menyatakan akan memangkas target defisit anggaran dari 2020.

Sejalan dengan pelemahan IHSG siang ini, nilai tukar rupiah di pasar spot terpantau melemah 6 poin atau 0,04% ke level Rp15.185 per dolar AS.

Mata uang Garuda sebelumnya dibuka dengan pelemahan 11 poin atau 0,07% di level Rp15.190 per dolar AS. Adapun pada perdagangan Kamis (4/10), rupiah berakhir melorot 104 poin atau 0,69% di posisi Rp15.179 per dolar AS.

Tag : IHSG
Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top