Kurs Tengah Melemah 100 Poin, Rupee dan Rupiah Tertekan

Bank Indonesia mematok kurs tengah hari ini, Rabu (3/10/2018) di Rp15.088 per dolar AS, melemah 100 poin atau 0,66% dari posisi Rp14.988 pada Selasa (2/10/2018).
Renat Sofie Andriani | 03 Oktober 2018 12:12 WIB
Karyawan memperlihatkan mata uang rupiah di salah satu bank di Jakarta. - JIIBI/Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA – Bank Indonesia mematok kurs tengah hari ini, Rabu (3/10/2018) di Rp15.088 per dolar AS, melemah 100 poin atau 0,66% dari posisi Rp14.988 pada Selasa (2/10/2018).

Kurs jual ditetapkan Rp15.163 per dolar AS, sedangkan kurs beli berada di Rp15.013 per dolar AS. Selisih antara kurs jual dan kurs beli adalah Rp150.

Di pasar spot, berdasarkan data Bloomberg, nilai tukar rupiah terpantau melemah 35 poin atau 0,23% ke level Rp15.078 per dolar AS pada pukul 10.57 WIB.

Mata uang Garuda sebelumnya dibuka dengan pelemahan 22 poin atau 0,15% di level Rp15.065 per dolar AS. Adapun pada perdagangan Selasa (2/10/2018), rupiah berakhir terjerembap 132 poin atau 0,89% di posisi Rp15.043 per dolar AS.

Mata uang lainnya di Asia bergerak variatif siang ini. Rupee India, yang terdepresiasi 0,57% pada pukul 11.14 WIB, memimpin pelemahan di antara beberapa mata uang di Asia. Renminbi China, yang terapresiasi 0,31%, memimpin penguatan di antara mata uang lainnya.

Sementara itu, indeks dolar AS, yang melacak pergerakan greenback terhadap mata uang utama lainnya, terpantau melandai 0,165 poin atau 0,17% ke level 95,342 pada pukul 11.04 WIB.

Sebelumnya indeks dolar dibuka di zona merah dengan turun tipis 0,050 poin atau 0,05% di level 95,457, setelah pada perdagangan Selasa (2/10) berakhir menguat 0,22% atau 0,209 poin di posisi 95,507, kenaikan lima hari beruntun.

Dilansir dari Bloomberg, mata uang Indonesia dan India tetap tertekan akibat lonjakan harga minyak. Rupiah merosot ke level terlemahnya sejak tahun 1998, sedangkan rupee melorot melampaui level 73 per dolar AS menuju rekor level terendah barunya.

Harga minyak mentah telah naik sekitar 16% sejak pertengahan Agustus saat penurunan pasokan dari Iran hingga Venezuela terus meresahkan pasar global.

OPEC dan sekutu-sekutunya juga menunjukkan sedikit antusiasme untuk meningkatkan output meskipun Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengeluhkan harga minyak mentah yang tinggi.

Meski demikian, sejumlah mata uang emerging market di Asia mampu bergerak lebih tinggi saat sentimen untuk aset berisiko mendapatkan dorongan dari penguatan mata uang euro dan kabar terkini mengenai anggaran Italia.

Nilai tukar euro naik untuk pertama kalinya dalam sepekan setelah surat kabar Italia Corriere della Sera melaporkan rencana pemerintah baru Italia untuk memangkas defisitnya menjadi 2% dari PDB pada 2021.

"Sentimen pasar telah sedikit stabil," ujar Gao Qi, pakar strategi mata uang di Scotiabank. " [Namun] kami tetap bearish mengenai rupee India dan rupiah setelah rupiah menembus level 15.000 per dolar AS."

Menurut Khoon Goh, kepala riset Asia di ANZ, penguatan euro kemungkinan tidak akan merembes ke dalam mata uang Asia akibat data PMI yang lesu pekan ini, harga minyak yang tinggi, dan kenaikan suku bunga AS yang akan kembali membebani.

Kurs Transaksi Bank Indonesia (Rupiah)

3 Oktober

15.088

2 Oktober

14.988

1 Oktober

14.905

28 September

14.929

27 September

14.919

Sumber: Bank Indonesia

Tag : kurs tengah bi
Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top