Rupiah Tambah Melorot, IHSG Kembali Tertekan di Akhir Sesi I

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) gagal mempertahankan reboundnya dan menetap di zona merah pada akhir sesi I perdagangan hari ini, Rabu (3/10/2018), di tengah pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.
Renat Sofie Andriani | 03 Oktober 2018 13:17 WIB
Karyawan beraktivitas di dekat papan elektronik yang menampilkan pergerakan IHSG di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (27/11). - JIBI/Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) gagal mempertahankan reboundnya dan menetap di zona merah pada akhir sesi I perdagangan hari ini, Rabu (3/10/2018), di tengah pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.

Berdasarkan data Bloomberg, IHSG turun 0,43% atau 25,12 poin ke level 5.850,50 pada akhir sesi I. Padahal, indeks sempat rebound menyentuh level 5.921 setelah dibuka di zona merah dengan turun tipis 0,02% di posisi 5.874,49.

Sepanjang perdagangan hari ini, IHSG bergerak pada level 5.849,54 – 5.921,57. Adapun pada perdagangan Selasa (2/10), IHSG berakhir melorot 1,16% di level 5.875,62.

Sektor tambang yang turun 3,15%, memimpin pelemahan enam sektor menekan pergerakan IHSG pada akhir sesi I, disusul sektor konsumer yang turun 0,73%.

Adapun sektor aneka industri bergerak flat, sedangkan sektor pertanian dan industri dasar masing-masing naik 0,53% dan 0,17%.

Sebanyak 175 saham menguat, 179 saham melemah, dan 249 saham stagnan dari 603 saham yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia siang ini.

Sementara itu, nilai tukar rupiah di pasar spot terpantau melemah 35 poin atau 0,23% ke level Rp15.078 per dolar AS.

Mata uang Garuda sebelumnya dibuka dengan pelemahan 22 poin atau 0,15% di level Rp15.065 per dolar AS. Adapun pada perdagangan Selasa (2/10/2018), rupiah berakhir terjerembap 132 poin atau 0,89% di posisi Rp15.043 per dolar AS.

Dilansir dari Bloomberg, rupiah memperpanjang pelemahannya ke level terendah sejak tahun 1998 akibat terbebani harga minyak yang lebih tinggi dan permintaan investor yang anemik atas aset-aset berisiko.

Harga minyak mentah telah naik sekitar 16% sejak pertengahan Agustus saat penurunan pasokan dari Iran hingga Venezuela terus meresahkan pasar global.

OPEC dan sekutu-sekutunya juga menunjukkan sedikit antusiasme untuk meningkatkan output meskipun Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengeluhkan harga minyak mentah yang tinggi.

“Bank Indonesia terus melakukan intervensi di pasar valas untuk menstabilkan nilai tukar rupiah,” ujar Deputi Gubernur BI Dody Budi Waluyo hari ini, seperti dikutip Bloomberg.

Menurut Khoon Goh, kepala riset di ANZ Bank, sulit bagi Bank Indonesia untuk mempertahankan batas level 15.000, mengingat kenaikan suku bunga AS, harga minyak lebih tinggi yang dapat membawa defisit perdagangan yang lebih lebar, serta penguatan dolar AS dalam beberapa hari terakhir.

“Jika sentimen tidak membaik, dapat terjadi pelemahan lebih lanjut menuju kisaran level 15.200,” ujar Goh.

Harga minyak West Texas Intermediate untuk pengiriman November 2018 siang ini terpantau naik tipis 0,01% ke US$75,24 per barel pada pukul 12.09 WIB. Pada Selasa (2/10), WTI berakhir turun tipis 0,07 poin di level US$75,23 per barel, tergelincir dari level tertingginya dalam hampir empat tahun terakhir.

Sementara itu, indeks dolar AS, yang melacak pergerakan greenback terhadap mata uang utama lainnya, terpantau melandai 0,165 poin atau 0,17% ke level 95,342 pada pukul 11.04 WIB.

Pagi tadi indeks dolar dibuka di zona merah dengan turun tipis 0,050 poin atau 0,05% di level 95,457, setelah pada perdagangan Selasa (2/10) berakhir menguat 0,22% atau 0,209 poin di posisi 95,507, kenaikan lima hari beruntun.

Tag : IHSG
Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top