Kakao Nigeria Berjamur, Harga di Pasar Kian Terpuruk

Panen pertama kakao sebagai tanaman komoditas utama di Nigeria yang baru saja tiba di sejumlah gudang dan pelabuhan berjamur. Kebanyakan pasokan tersebut berasal dari wilayah Barat Daya karena curah hujan tinggi.
Mutiara Nabila | 26 September 2018 16:25 WIB
Ilustrasi. - JIBI

Bisnis.com, JAKARTA – Panen pertama kakao sebagai tanaman komoditas utama di Nigeria yang baru saja tiba di sejumlah gudang dan pelabuhan berjamur. Kebanyakan pasokan tersebut berasal dari wilayah Barat Daya karena curah hujan tinggi.

Sepanjang tahun ini, produksi kakao di sejumlah negara produsen utama menjulang karena cuaca dalam beberapa bulan terakhir cukup baik untuk pertumbuhan kakao di Afrika Barat dan Pantai Gading yang diperkirakan akan kembali mendapat hasil panen dalam jumlah besar.

Pada perdagangan Selasa (25/9) harga kakao di bursa Intercontinental Exchange (ICE) kembali merosot 19 poin atau 0,85% menjadi US$2.216 per ton dan mencatatkan kenaikan 17,12% secara year-to-date (ytd).

Harga kakao sempat menjulang 3,5% pada posisi US$2.235 per ton pada sesi sebelumnya karena pengiriman kakao dari Pantai Gading berjalan stagnan dengan periode yang sama tahun lalu.

Direktur Pengelola D. Clay Inspection Ltd Remi Adebayo menyebutkan bahwa biji Kakao yang diperiksa di sejumlah gudang berjamur dengan jumlah sekitar 18% - 24%, jumlah itu terlalu besar jika dibandingkan dengan persyaratan minimum dari International Cocoa Organization (ICCO) hanya 4%. Setiap pekan ada 500 – 750 ton kakao tiba di Lagos, lokasi pelabuhan utama.

“Namun, biji kakao yang datang dari wilayah Tenggara menunjukkan lebih sedikit jamur dengan jumlah sekitar 9% - 12%,” lanjut Adebayo seperti dikutip dari Bloomberg.

Curah hujan tinggi sejak Juli di sabuk pertanian kakao Nigeria, memicu tumbuhnya lumut dan jamur karena tidak cukup sinar matahari untuk mengeringkan biji-biji itu. Selain itu, kondisi tersebut juga memicu penyakit black-pod dan jamur yang menyebabkan tanaman menyusut dan busuk. Sejumlah petani juga ada yang terserang banjir.

“Kami menyimpan biji yang telah dipanen di gudang tanpa cahaya matahari dan panas yang menyebabkan fermentasi menjadi lebih cepat,” papar Mershack Ojetola, salah satu pembeli berizin di Modakeke.

Nigeria saat ini menduduki peringkat kelima di bawah Kamerun sebagai produsen kakao terbesar di dunia, dengan ICCO memperkirakan produksi pada masa panen 2017 – 2018 mencapai 240.000 ton.

Sementara itu, organisasi kakao lokal Nigeria sendiri mengestimasikan produksi pada panen 2018 – 2019 yang mulai pada Oktober mendatang akan lebih rendah.

Negara Afrika Barat memiliki dua musim kakao yang terdiri atas masa panen pertengahan berskala kecil pada April hingga Juni dan masa panen utama berskala besar dari Oktober hingga Desember tiap tahunnya, yang memasok sekitar 70% dari keseluruhan produksi kakao dunia.

Tag : kakao
Editor : Pamuji Tri Nastiti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top