Trump Aktifkan Tarif Dagang Baru, Emas Tertekan Dolar AS Lagi

Harga emas kembali merosot setelah mengalami kenaikan hingga 0,6% pada sesi sebelumnya karena dolar Amerika Serikat terus menguat setelah menjatuhkan putaran tarif baru pada impor China dan memperburuk kekhawatiran pada perdagangan global.
Mutiara Nabila | 18 September 2018 16:12 WIB
Ilustrasi. - JIBI

Bisnis.com, JAKARTA – Harga emas kembali merosot setelah mengalami kenaikan hingga 0,6% pada sesi sebelumnya karena dolar Amerika Serikat terus menguat setelah menjatuhkan putaran tarif baru pada impor China dan memperburuk kekhawatiran pada perdagangan global.

Pada perdagangan Selasa (18/9), harga emas spot berada di posisi US$1.198,34 per troy ounce, turun 3,12 poin atau 0,26% dari penutupan sesi perdagangan sebelumnya. Adapun, harga emas Comex turut memerah dengan penurunan 2,8 poin atau 0,23% menjadi US$1.203 per troy ounce.

Pada Senin (17/9), Presiden AS Donald Trump kembali menjatuhkan tarif 10% pada barang China senilai US$200 miliar. Trump juga memberikan peringatan bahwa apabila China melakukan aksi pembalasan kepada sektor industri atau pertanian AS, maka AS akan melanjutkan langkahnya ke fase tiga, dengan tambahan tarif pada impor senilai US$267 miliar.

Perang dagang yang sudah berlangsung berbulan-bulan antara Washington dan Beijing telah memicu investor untuk membeli dolar AS sebanyak mungkin sebagai aset dengan keyakinan bahwa AS tidak akan kalah dalam perang dagang.

Pada sesi perdagangan yang sama, indeks dolar AS, yang mengukur kekuatan dolar AS di hadapan sekeranjang mata uang, mencatatkan penguatan 0,1% ke posisi 94,50. Selain itu, yuan China melanjutkan pelemahan 0,06% menjadi 6,86 yuan per dolar AS.

Harga emas telah mengalami penurunan hingga 12% sejak April karena intensitas perang dagang yang semakin menguat dan di bawah tekanan dari kemungkinan kenaikan suku bunga AS.

Hedge fund dan spekulator terus mengayunkan harga emas dengan ekspektasi kenaikan suku bunga dan imbal hasil AS, tanda bahwa mereka mulai mundur dan berpikir bahwa The Fed AS akan tetap pada jalurnya untuk kenaikan suku bunga yang kabarnya sudah sejak lama tersebar luas.

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top