Pembelian Melonjak, Harga Gandum Terkerek

Perdagangan gandum berjangka AS melonjak hampir 3%.
Mutiara Nabila | 16 September 2018 21:11 WIB
Ilustrasi - Artisanfoodandlaw

Bisnis.com, JAKARTA – Perdagangan gandum berjangka AS melonjak hampir 3%. Rebound dari level terendah selama delapan pekan karena lonjakan pembelian teknikal dan short-covering sebelum akhir pekan lalu.

Kenaikan harga gandum turut mengerek harga jagung, tetapi karena adanya ekspektasi panen yang membludak membuat reli harganya tertahan. Adapun, kedelai ditutup memerah karena kekhawatiran akan perang dagang AS dan China akan membatasi ekspor panen kedelai AS yang diperkirakan akan mencapai rekor.

Direktur Informasi Pasar di INTL FCStone Matt Zeller mengatakan bahwa gandum memimpin kenaikan di bursa Chicago menembus level psikologis US$5 per bushel. Hal itu sebagian besar disebabkan oleh Rusia, sebagai pengekspor utama, masih harus menghadapi kekeringan dan penyusutan panen.

“Jagung dan kedelai belum memiliki pencetus untuk bisa rebound dari level terendahnya, kemudian ditekan lagi oleh musim panen AS dan dari negara-negara Barat lain yang panennya besar,” ujar Zeller, dilansir dari Reuters, Minggu (16/9/2018).

Harga gandum pada penutupan perdagangan Jumat (14/9/2018) di Chicago Board Of Trade (CBOT) tercatat melonjak 14,50 poin atau 2,92% menjadi US$511,50 sen per bushel dan mencatatkan kenaikan sebesar 19,79% secara year-to-date (ytd). Harga tersebut menghapuskan penurunan harga selama tiga pekan berturut. Adapun, selama sepekan harga gandum CBOT mencatatkan kenaikan sebanyak 0,1%.

Sejumlah diler gandum mengatakan bahwa pasokan gandum global terus mengetat dan para pembeli fisik utama bisa mengambil keuntungan dari pelemahan harga beberapa waktu lalu sehingga bisa menambah pembelian.

Agen gandum Tunisia tercatat melakukan pembelian 67.000 ton gandum giling, 75.000 ton durum, dan 50.000 ton barley dalam perdagangan Jumat.

Selain itu, pada awal pekan lalu, pembeli gandum dari Mesir mencatatkan pembelian hingga 235.000 ton gandum dalam tender internasional, sedangkan Aljazair membeli 630.000 ton.

Aktivitas pasar gandum yang tinggi membantu menopang harga meskipun industri gandum AS berencana masuk dalam bisnis global.

Selain gandum, harga jagung CBOT juga menghijau dengan kenaikan tipis 1,25 poin atau 0,36% menjadi US$351,75 sen per bushel dan mencatatkan kenaikan harga 0,29% selama 2018 berjalan. Sementara itu, harga kedelai untuk kontrak teraktif November turun 2,75 poin atau 0,33% menjadi US$830,50 sen per bushel dan turun 12,74% sepanjang tahun ini.

Presiden AS Donald Trump telah meminta anggota pemerintahnya untuk segera memproses tarif kepada barang China senilai US$200 miliar, meskipun Menteri Keuangan AS diketahui berencana melakukan negosiasi dagang lebih lanjut dengan China.

“Potensi faktor pembalik terbesar bagi neraca keuangan AS adalah angka ekspor, adanya perubahan pada situasi perang tarif di AS akan mendorong harga biji-bijian AS,” kata Jonathan Lane, Direktur Perdagangan Gleadell.

 

 

Tag : komoditas
Editor : Nancy Junita

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top