Dolar AS Terancam Catat Pekan Terburuk, Rupiah Menguat

Pelemahan dolar AS mendongkrak nilai tukar rupiah bersama mayoritas mata uang di Asia pada perdagangan hari ini, Jumat (14/9/2018).
Renat Sofie Andriani | 14 September 2018 19:27 WIB
Petugas jasa penukaran valuta asing memeriksa lembaran mata uang rupiah dan dollar AS di Jakarta, Senin (2/7/2018). - ANTARA/Puspa Perwitasari

Bisnis.com, JAKARTA — Pelemahan dolar AS mendongkrak nilai tukar rupiah bersama mayoritas mata uang di Asia pada perdagangan hari ini, Jumat (14/9/2018).

Berdasarkan data Bloomberg, nilai tukar rupiah di pasar spot rebound dan ditutup menguat 33 poin atau 0,22% di level Rp14.807 per dolar AS, setelah berakhir terdepresiasi 7 poin atau 0,05% di posisi Rp14.840 pada Kamis (13/9).

Mata uang Garuda bahkan sempat menguat hingga menyentuh kisaran level Rp14.770 per dolar AS setelah rebound, dengan dibuka terapresiasi 38 poin atau 0,26% di posisi Rp14.802 pada pagi tadi. Sepanjang perdagangan hari ini, rupiah bergerak di level Rp14.778 – Rp14.844 per dolar AS.

Dalam dalam sidang parlemen di Jakarta ,Kamis (13/9), Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Mirza Adityaswara mengatakan BI akan tetap mempertahankan kebijakan moneter yang hawkish pada 2019.

“Nilai tukar terlihat berkisar antara Rp14.300-Rp14.700 per dolar AS pada 2019 saat situasi pasar keuangan akan lebih banyak dikendalikan,” tuturnya seperti dilansir Bloomberg.

Setali tiga uang, Deputi Gubernur BI Dody Budi Waluyo menyatakan BI melanjutkan upaya stabilisasi nilai tukar rupiah yang dilakukan di antara melalui kebijakan suku bunga serta intervensi ganda dalam pasar valas dan obligasi, saat risiko global tetap ada.

Adapun IMF mendukung langkah yang diambil Indonesia dalam merespons aksi jual yang melanda emerging market beberapa waktu terakhir. Suku bunga yang lebih tinggi dan intervensi valuta asing merupakan langkah yang tepat untuk mengurangi volatilitas.

Namun, Chief for Indonesia dari IMF Luis Breuer mengingatkan agar otoritas jangan sampai lengah dan berpuas diri. Alih-alih, harus meneruskan upaya untuk mengurangi risiko yang membuat ekonomi Indonesia rentan terhadap arus modal keluar.

“Secara keseluruhan, respons kebijakan sudah sangat tepat. Tapi, situasi bisa berubah dengan cepat pula dan [pembuat kebijakan] harus selalu waspada,” jelasnya seperti dilansir Bloomberg.

Mata uang lainnya di Asia mayoritas ikut menguat, dipimpin won Korea Selatan dan rupee India yang masing-masing menguat 0,50% pada pukul 18.09 WIB.

Dilansir dari Bloomberg, rupee India dan won Korea Selatan memimpin penguatan mata uang di Asia sekaligus memperpanjang penguatan yang dibukukan pada Kamis (13/9) di tengah membaiknya sentimen aset berisiko dan pelemahan dolar AS.

Dolar AS bergerak menuju pekan terburuknya sejak Februari 2018 saat data inflasi inti AS yang melambat pada Agustus 2018, ketidakpastian politik seputar pemilu paruh waktu, dan peningkatan daya tarik aset berisiko menjaga greenback mendekati batas terendah kisarannya sejak Mei 2018.

Optimisme meredanya tensi perdagangan global beserta langkah Turki untuk mendukung mata uangnya dengan kenaikan suku bunga sebesar 625 basis poin (bps) menjadi faktor yang turut mendukung pasar negara berkembang hari ini.

“Kombinasi sejumlah faktor mendorong dan menunjukkan lebih banyak kenaikan untuk valas Asia setidaknya selama jangka pendek melawan latar belakang dolar AS yang berada di bawah tekanan,” ujar pakar strategi emerging market di TD Securities Mitul Kotecha.

Indeks dolar AS yang mengukur kekuatan kurs dolar AS terhadap sejumlah mata uang utama terpantau turun 0,03% atau 0,024 poin ke level 94,494 pada pukul 17.59 WIB.

Sebelumnya, indeks dolar AS dibuka dengan kenaikan tipis 0,028 poin atau 0,03% di level 94,546, setelah berakhir melemah 0,30% atau 0,281 poin di posisi 94,518 pada perdagangan Kamis (13/9).

Tag : Gonjang Ganjing Rupiah
Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top