Petani Kakao Pantai Gading Khawatirkan Serangan 'Black Pod'

Curah hujan di atas rata-rata di wilayah pertanian kakao seluruh Pantai Gading pada pekan lalu diperkirakan akan memberikan dampak bagi kesehatan tanaman untuk dipanen pada Oktober hingga Maret.
Mutiara Nabila | 12 September 2018 18:04 WIB
Ilustrasi. - JIBI

Bisnis.com, JAKARTA – Curah hujan di atas rata-rata di wilayah pertanian kakao seluruh Pantai Gading pada pekan lalu diperkirakan akan memberikan dampak bagi kesehatan tanaman untuk dipanen pada Oktober hingga Maret.

Sejumlah petani mengatakan sudah cukup puas dengan jumlah buah dan pohon yang sudah tumbuh hingga saat ini, tetapi sedang mengkhawatirkan hujan yang akan memicu penyakit “black pod” karena pada tanaman kakao dan membuat biji kakao lebih sulit untuk dikeringkan.

“Sejumlah petani akan mulai panen pekan depan. Banyak kekhawatiran dalam proses pengeringan biji kakao karena saat ini cuacanya sangat lembap,” kata Sebastien Dechi, petani di wilayah Selatan Agboville, dikutip dari Reuters, Rabu (12/9/2018).

Dechi mengaku bahwa sejumlah tanamannya sudah mulai berubah warna semakin gelap, tetapi belum terlalu parah untuk saat ini.

Data kompilasi Reuters menunjukkan di wilayah Selatan Agboville terdapat curah hujan hingga 28,2 milimeter pada pekan lalu, di atas rata-rata sebanyak 13,8 milimeter selama lima tahun.

Petani di wilayah Timur Abengourou memperkirakan bahwa panennya akan membeludak pada akhir musim dan akan mulai menyusut pada awal Februari 2019.

“Panennya akan cukup banyak untuk musim ini,” ujar Kevin Aka, salah satu petani di Abengourou.

Di Abengourou, mencakup kota Aboisso, mencatatkan curah hujan hingga 35,5 milimeter pada pekan lalu, 19,7 milimeter di atas rata-rata.

Di pusat Daloa, yang memproduksi 25% dari keseluruhan produksi kakao Pantai Gading, sejumlah petani mengatakan bahwa koperasi kakaonya tengah mempersiapkan gudangnya untuk panen pertama tahun ini.

Adapun, di wilayah Barat Soubre, sebagai pusat pertanian kakao di Pantai Gading, para petaninya mengatakan bahwa mereka cukup senang dengan musim hujan yang terjadi saat ini.

“Tanaman dan buah yang tumbuh sekarang lebih banyak dibandingkan dengan priode yang sama pada tahun lalu,” ujar Lazare Ake, petani di Soubre.

Pada perdagangan Rabu (12/9), harga kakao mencatatkan penurunan 16 poin atau 0,70% menjadi US$2.284 per ton dari sesi perdagangan sebelumnya dan mencatatkan kenaikan secara year-to-date (ytd) sebanyak 20,67%.

Menurut data International Cocoa Organization (ICCO) memprediksikan pada akhir masa panen 2017–2018 pada akhir September bahwa produksi kakao di seluruh dunia akan mencapai 4,64 juta ton, melebihi perkiraan sebelumnya sebanyak 4,58 juta ton dan berkurang 94.000 ton atau 2% dari musim panen Oktober–September 2016–2017.

Adapun, pada periode panen 2017–2018, total penggilingan biji kakao di seluruh dunia mencapai 4,56 juta ton, bertambah 172.000 ton atau 3,9% dari tahun sebelumnya. Pasokan untuk musim panen tahun ini juga diperkirakan akan mengalami surplus 31.000 ton.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
komoditas, kakao

Editor : Pamuji Tri Nastiti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top