Harga CPO Menguat, Diprediksi Tertahan di 2.500 Ringgit Per Ton

Harga minyak kelapa sawit diprediksi akan bergerak pada posisi 2.100 ringgit per ton dalam enam bulan kedepan dengan penguatan harga diperkirakan akan terbatas pada posisi 2.400 ringgit – 2.500 ringgit per ton.
Mutiara Nabila
Mutiara Nabila - Bisnis.com 28 Agustus 2018  |  16:00 WIB

Bisnis.com, JAKARTA – Harga minyak kelapa sawit diprediksi akan bergerak pada posisi 2.100 ringgit per ton dalam enam bulan kedepan dengan penguatan harga diperkirakan akan terbatas pada posisi 2.400 ringgit – 2.500 ringgit per ton.

Pada perdagangan Selasa (28/8), harga minyak kelapa sawit (crude palm oil/CPO) tercatat melonjak 34 poin 1,55% menjadi 2.233 ringgit per ton, dan mencatatkan penurunan 10,35% secara year-to-date (ytd).

“Harga CPO kembali menghijau karena permintaanya meningkat dalam beberapa bulan kedepan kerena sejumlah negara pengimpor mengalami penurunan pasokan,” tutur Direktur Oil World Executive Thomas Mielke dalam konferensi industri Kuala Lumpur dilansir dari Bloomberg, Selasa (28/8).

Diskon besar antara harga CPO dan harga gasoil diperkirakan akan bertahan lama. Adapun, produksi CPO global tercatat naik 4,6 juta ton pada Oktober 2018 – September 2019 dibandingkan dengan tahun lalu.

Selain itu, hasil produksi CPO dari Malaysia diperkirakan mengalami penurunan menjadi 19.8 juta ton pada 2018 dibandingkan dengan jumlah sebanyak 19,92 juta ton pada tahun lalu. Sementara itu, hasil produksi pada 2019 diproyeksi meningkat hingga 20,4 juta ton pada 2019.

Hasil produksi biodiesel Malaysia diperkirakan akan mencapai 0,9 juta ton pada 2018 dibandingkan dengan 0,7 juta ton pada 2017.

Adapun, hasil produksi CPO dari Indonesia mengalami kenaikan 38,9 juta ton pada 2018 dibandingkan dengan 36,8 juta ton pada 2017. Hasil produksi pada 2019 diperkirakan mencapai 40,5 juta ton pada 2019.

Hasil produksi biodiesel diperkirakan akan mencapai 4,7 juta ton pada 2018 dibandingkan dengan jumlah 2,9 juta ton pada tahun lalu.

Impor CPO China tercatat naik ke posisi 5,6 juta ton pada 2018, dibandingkan dengan jumlah pada periode yang sama tahun lalu hanya mencapa 5,4 juta ton.

Perang dagang antara AS dan China menimbulkan ketidakpastian sehingga membuat harga kedelai dan minyak kedelai. Namun, pasar masih meremehkan perintaan kedelai dari China karena Negeri Panda itu belum bisa memenuhi keseluruhan kebutuhan impornya dari negara pemasok selain AS.

China tercatat masih mengimpor kedelai dari AS sekitar 13 juta ton – 17 juta ton kedelai AS antara Oktober hingga Maret lalu, meskipun kedelai AS dikenakan tarif oleh China.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
harga cpo

Editor : Rustam Agus

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top