Vale Indonesia (INCO) Bakal Bentuk 2 Joint Venture untuk Proyek Ini

Emiten pertambangan nikel PT Vale Indonesia Tbk. (INCO) berharap pembentukan join venture (JV) untuk menggarap dua proyek smelter di Bahodopi, Sulawesi Tengah, dan Pomalaa, Sulawesi Tenggara, dapat rampung pada 2018.
Hafiyyan
Hafiyyan - Bisnis.com 28 Agustus 2018  |  22:04 WIB
Vale Indonesia (INCO) Bakal Bentuk 2 Joint Venture untuk Proyek Ini
Aktifitas penambangan nikel milik PT Vale Indonesia, Tbk terlihat di Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan. - JIBI/Paulus Tandi Bone

Bisnis.com, JAKARTA - Emiten pertambangan nikel PT Vale Indonesia Tbk. (INCO) berharap pembentukan join venture (JV) untuk menggarap dua proyek smelter di Bahodopi, Sulawesi Tengah, dan Pomalaa, Sulawesi Tenggara, dapat rampung pada 2018.

Presiden Direktur  Vale Indonesia Nico Kanter menyampaikan, untuk menggarap proyek smelter Bahodopi dan Pomalaa, perusahaan sedang menantikan pengajuan pra feasibility study (FS) dari sejumlah calon patner. Diharapkan prosesnya rampung tahun ini.

"Untuk di Pomalaa, patner-nya yang sudah pasti adalah Sumitomo. Kalau Bahodopi, antara 2-3 perusahaan yang mengajukan pra FS. Kemungkinan tahun ini pra FS selesai," tuturnya, Selasa (28/8/2018).

Secara sederhana, menurutnya, proyek Bahodopi dan Pomalaa akan menghasilkan produk olahan nikel kelas I. Produk tersebut berbeda dengan nikel matte yang biasa diproduksi perseroan melalui pabrik di Sorowako, Sulawasi Selatan.

Nikel matte hanya digunakan untuk industri baja anti karat stainless steel. Adapun, nikel kelas I merupakan bahan baku produk premium seperti baterai listrik untuk electronic vehicle (EV).

Smelter nikel di Pomalaa misalnya, nantinya digunakan untuk pengolahan menjadi produk mixed sulphide precipitate (MSP) dengan menggunakan teknologi high pressure acid leaching. Operasionalnya akan terintegrasi dengan Sumitomo di Jepang yang sudah memproduksi baterai listrik untuk mobil.

Nico menyebutkan, di samping mengembangkan produk hilir, perusahaan juga masih dalam rencana menambah kapasitas produksi nikel matte di Sorowako menjadi 90.000 ton pada 2022. Pada 2018, volume produksi diperkirakan baru mencapai 77.000 ton.

Direktur Vale Indonesia Febriany Eddy menuturkan, harga nikel cenderung membaik sepanjang 2018 seiring dengan peningkatan permintaan. Diperkirakan 60%-70% konsumsi nikel global diserap oleh industri stainless steel

Berdasarkan data Bloomberg, secara year-to-date (ytd) hingga Jumat (24/8/2018) harga nikel London Metal Exchange (LME) naik 5,13% menjadi US$13.415 per ton. Nikel berhasil menguat di antara logam industri lainnya yang melemah.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
kinerja emiten, vale indonesia tbk

Editor : Pamuji Tri Nastiti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top
Tutup