Analis: Bahan Baku Naik, Emiten Baja Butuh Kerja Keras

Bahan baku baja asal pasar lokal pun sebenarnya ikut terkerek harga baja dunia. Selain itu, pemasok bahan baku banyak yang belum efisien, sehingga tidak dapat menjanjikan harga yang lebih murah dibandingkan baja impor.
Dara Aziliya
Dara Aziliya - Bisnis.com 24 Agustus 2018  |  20:49 WIB
Analis: Bahan Baku Naik, Emiten Baja Butuh Kerja Keras
Produsen baja - Ilustrasi

Bisnis.com, JAKARTA – Strategi emiten baja nasional untuk menggeser sumber bahan bakunya yang selama ini diimpor menjadi dari produsen lokal dinilai akan membantu kinerja perseroan untuk menghindari pengaruh negatif kondisi pasar eksternal.

Analis Binaartha Sekuritas, M. Nafan Aji Gusta Utama menyebut meski akan ada masa transisi dari pergeseran tersebut, lokalisasi sumber bahan baku akan menjadi sentimen positif bagi emiten baja hilir domestik yang kinerjanya dalam setahun terakhir terganggu oleh kenaikan harga baja dunia.

“Iklim yang ada sekarang memang mendukung emiten baja untuk mengurangi impor bahan baku. Misalnya pemerintah yang berencana menerapkan tariff barrier pada baja impor, lalu pemerintah juga sedang menggalakkan pengurangan impor untuk memperkuat rupiah,” ujar Nafan di Jakarta, Jumat (24/8).

Untuk dapat menjaga fundamental tetap baik di tengah transisi pergeseran asal bahan baku tersebut, Nafan menyebut emiten baja hilir perlu lebih kerja keras untuk meningkatkan penjualan baik di pasar domestik, maupun pasar ekspor.

Sementara itu, Analis FAC Sekuritas Wisnu Prambudi Wibowo menyampaikan bahan baku baja asal pasar lokal pun sebenarnya ikut terkerek harga baja dunia. Selain itu, pemasok bahan baku banyak yang belum efisien, sehingga tidak dapat menjanjikan harga yang lebih murah dibandingkan baja impor.

Hal tersebut merupakan tantangan dari industri baja hilir untuk dapat menjaga kondisi finansial hingga akhir tahun tetap stabil. Wisnu mencontohkan emiten PT Steel Pipe Industry of Indonesia Tbk. atau ISSP yang pada 2016 memiliki margin kotor 25%, namun menurun menjadi 18% pada 2017 dan pada Juni 2018 tergerus lagi ke level 15%.

“Ada tantangan tersebut [harga baja dalam negeri juga tinggi] namun mendukung pemerintah untuk memperkuat rupiah,” ungkap Wisnu.

Wisnu menyebut di tengah situasi kenaikan harga baja dunia, emiten baja hilir nasional pun tidak dapat langsung menaikkan harga jual. Hal tersebut menjadi penyebab kian tergerusnya kinerja keuangan perseroan pada semester pertama tahun ini. 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
baja

Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top