LAPORAN DARI TOKYO: Hasnur Group Bakal Lepas 20% Saham Anak Usaha

Rencana perusahaan keluarga yang berbasis di Kalimantan Selatan itu untuk mengantarkan anak usahanya PT Hasnur Jaya Internasional melantai di bursa saham domestik (initial public obligation/IPO) merupakan salah satu strategi perusahaan dalam mencari pendanaan.
Nurbaiti
Nurbaiti - Bisnis.com 24 Agustus 2018  |  13:59 WIB
LAPORAN DARI TOKYO: Hasnur Group Bakal Lepas 20% Saham Anak Usaha
Hasnur Group melalui anak usaha PT Hasnur Jaya Internasional dan Itochu Corporation melakukan penandatanganan penambahan jual-beli batu bara dari 1,5 juta ton menjadi 2 juta ton pada tahun ini. Penandatanganan diwakili oleh Etsuo Kiyota, Deputy General Manager Coal & Nuclear Fuel Department Metal and Mineral Resources Division, Itochu Corporation dan Hendra Santoso,Direktur PT Bhumi Rantau Energi (anak usaha Hasnur Jaya International) dilakukan di kantor Itochu, pada Jumat (24/8/2018). (Nurbaiti - Bisnis)

Bisnis.com, TOKYO - Hasnur Group berencana melepas 20% saham anak usahanya ke publik pada semester I/2019.

Rencana perusahaan keluarga yang berbasis di Kalimantan Selatan itu untuk mengantarkan anak usahanya PT Hasnur Jaya Internasional melantai di bursa saham domestik (initial public obligation/IPO) merupakan salah satu strategi perusahaan dalam mencari pendanaan.

Direktur Keuangan Hasnur Group, Syamsul Bachri Djadi mengatakan bahwa perseroan memperkirakan akan membutuhkan dana sekitar Rp1 triliun-Rp1,5 triliun untuk belanja modal (capital expenditure/capex) pada 2019.

"Strategi untuk mencari sumber pendanaan itu kan ada bermacam-macam, tetapi Hasnur Group sepakat untuk IPO," tuturnya, Kamis (23/8/2018).

Dengan dilepasnya saham Hasnur Group ke publik, jelasnya, tentu saja setiap orang berkesempatan untuk memilikinya. "Kalau dilepas ke satu perusahaan, hanya satu pihak saja yang nantinya memiliki saham itu," tuturnya.

Syamsul sebelumnya menjelaskan salah satu investasi terbesar yang akan dilakukan perusahaan dengan dana IPO itu adalah untuk pengembangan logistik untuk sektor pertambangan di Kalimantan Selatan dan Sumatra Selatan. Investasi tersebut diperkirakan membutuhkan dana sekitar Rp1,2 triliun—Rp1,4 triliun.

“Dana tersebut akan kami gunakan untuk pembangunan storaging dan memperkuat pengangkutan batu bara. Kami ingin ekspasi logistik batu bara ke area Sumatra. Dari kebutuhan ini kami mempertimbangan fundraising-nya, salah satunya dari IPO,” katanya.

Namun demikian, menurut dia, pengeluaran untuk investasi tersebut belum akan dikeluarkan dalam waktu dekat. Pasalnya, perseroan masih merampungkan perjanjian bisnis untuk membangun infrastruktur logistik di Sumatra Selatan.

Dia menyebutkan perusahaan juga belum menunjuk underwriter untuk pelaksanaan IPO. Menurut perseroan, lini mining merupakan entitas yang paling mpan dari sisi aktivitas bisnis, sehingga diarahkan untuk IPO.

Adapun, Hasnur Jaya Internasional mencatatkan kepemilikan aset sebesar Rp3 triliun, dengan pendapatan Rp1,9 triliun dan laba sebesar Rp350 miliar. Pada semester I/2018, pendapatan perseroan telah mencapai Rp1,1 triliun, dengan laba bersih pada kisaran Rp200 miliar.

Hasnur Group berdiri pada 1966 dengan lini bisnis awal yaitu pengangkutan kayu bulat dari area produksi menuju Kota Banjarmasin, melalui sungai barito. Saat ini perseroan memiliki 5 lini bisnis yaitu kehutanan, pertambangan, pertanian, media, dan services pada sektor properti, kendaraan rental, penyewaan alat berat, dan IT.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
ipo

Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top