Semester I/2018, Emisi Obligasi Lewat Mandiri Sekuritas Capai Rp66,7 Triliun

PT Mandiri Sekuritas telah menangani penerbitan obligasi korporasi dengan nilai mencapai Rp66,7 triliun pada paruh pertama tahun ini. Meskipun terbilang cukup tinggi, jumlah itu turun dibandingkan dengan tahun lalu.
Tegar Arief | 08 Agustus 2018 17:21 WIB
Ilustrasi - Bisnis.com

Bisnis.com, JAKARTA - PT Mandiri Sekuritas telah menangani penerbitan obligasi korporasi dengan nilai mencapai Rp66,7 triliun pada paruh pertama tahun ini. Meskipun terbilang cukup tinggi, jumlah itu turun dibandingkan dengan tahun lalu.

Dari data perseroan, pada enam bulan pertama tahun lalu total nilai penerbitan obligasi yang ditangani Mandiri Sekuritas mencapai Rp80 trilun. Artinya, ada penurunan sebesar 16,62% secara year on year (yoy).

"Memang tahun ini turun dibandingkan penurunan. Dari sisi penerbitan baru obligasi korporasi saja sudah tidak bisa menyamai," kata Direktur Utama PT Mandiri Sekuritas Silvano Rumantir di Jakarta, Rabu (8/8/2018).

Dia menjelaskan, sepanjang tahun lalu nilai penerbitan obligasi korporasi baru lewat Mandiri Sekuritas tercatat mencapai Rp162 triliun. Adapun semester I/2018, nilai obligasi yang jatuh tempo senilai Rp42,9 triliun.

Sehingga, total nilai penerbitan obligasi dari Mandiri Sekuritas, baik yang penerbitan baru maupun yang mature senilai Rp109,6 triliun. Kata Silvano, angka itu memang lebih rendah dibandingkan dengan total nilai pada tahun lalu.

Namun dia mengklaim tren penerbitan obligasi masih positif. Pasalnya, pada 2016 silam, total nilai penerbitan baru tercatat senilai Rp110 triliun. Pada tahun ini, realisasi sepanjang tahun diyakini akan di atas capaian pada 2016 tersebut.

"Dua tahun terakhir naik terus karena surat utang negara kita ikut reli. Itu menjadi katalis untuk masuk ke market," kata dia.

Di sisi lain, Silvano mengklaim minat investor sebenarnya masih cukup tinggi, terutama yang berasal dari tiga kelas, yakni dana pensiun, asuransi, dan manajer investasi. Apalagi, dalam sepekan terakhir pasar obligasi berhasil membaik.

Penyebabnya adalah inflasi yang rendah, mulai kembalinya dana asing ke dalam negeri, serta volatilitas di pasar global yang mulai mereda. Adapun mengenai rencana kenaikan suku bunga oleh The Fed, menurutnya telah diprediksi banyak kalangan.

"The Fed sosialisasinya bagus, dan dalam konseneus memang masih ada dua kali kenaikan lagi tahun ini. Itu sudah terprediksi," ujarnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Obligasi

Editor : Ana Noviani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top