Laporan Keuangan HMSP Positif, Ini Rekomendasi Analis

Pelaku pasar dianggap menyambut positif laporan keuangan PT Hanjaya Mandala Sampoerna Tbk. (HMSP), sehingga harga sahamnya mengalami peningkatan.
Hafiyyan | 30 Juli 2018 06:36 WIB
Mantan Presiden Direktur PT HM Sampoerna Tbk. Paul Janelle (kiri) dan Presiden Direktur yang baru, Mindaugas Trumpaitis, saat jumpa pers Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) Sampoerna di Gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (18/11/2016). RUPSLB yang digelar Sampoerna menyetujui Mindaugas Trumpaitis secara resmi menggantikan Paul Janelle sebagai Presiden Direktur Sampoerna. - istimewa

Bisnis.com, JAKARTA--Pelaku pasar dianggap menyambut positif laporan keuangan PT Hanjaya Mandala Sampoerna Tbk. (HMSP), sehingga harga sahamnya mengalami peningkatan.

Dalam laporannya, Jumat (27/7/2018), analis PT Macquarie Sekuritas Indonesia Robert Pranata menyampaikan, pada kuartal II/2018 HMSP membukukan kenaikan pendapatan 2% quarter on quarter (qoq) dan 12% year on year (yoy) menjadi Rp3,08 triliun.

"Kami pikir kinerja HMSP sejalan dengan proyek kami, walaupun masih sedikit di bawah estimasi konsensus," paparnya.

Dalam laporan keuangan semester I/2018, manajemen HMSP menyampaikan, pendapatan perusahaan mencapai Rp49,16 triliun. Angka itu meningkat 5,51% year on year (yoy) dari realisasi Januari--Juni 2017 senilai Rp46,59 triliun.

Kendati mengalami peningkatan, pencapaian pendapatan masih di bawah estimasi konsensus. Mengutip data Bloomberg, konsensus analis memprediksi pendapatan HMSP sebesar Rp51,17 triliun.

Robert menuturkan, kenaikan pendapatan perusahaan ditopang pertumbuhan harga jual rata-rata (average selling price/ ASP) pada kuartal II/2018 sebesar 0,8% yoy. Namun, margin kotor menurun menjadi 22,8% dari kuartal I/2018 sebesar 23,8%.

Menurutnya, perusahaan menjaga marjin Earnings Before Interest & Taxes (EBIT) 14,5% pada kuartal II/2018, sama seperti triwulan sebelumnya. Hal ini terjadi karena HMSP mampu mengontrol biaya operasional hanya naik 4% yoy pada semester I/2018 menjadi Rp3,88 triliun dari sebelumnya Rp3,76 triliun.

Namun demikian, tampaknya reaksi pasar cukup positif terhadap kinerja HMSP karena sejumlah investor memerkirakan hasil yang lebih buruk.

Pada penutupan perdagangan Jumat (27/7/2018), saham HMSP meningkat 50 poin atau 1,29% menjadi Rp3.920. Kapitalisasi pasar mencapai Rp455,97 triliun dengan PER 37,33 kali.

Dalam sepekan terakhir, saham HMSP menguat 4,26%. Namun, sepanjang tahun berjalan harga masih melesu 17,12%.

Robert memberikan rekomendasi netral terhadap saham HMSP dengan target Rp3.900. Kenaikan cenderung terbatas karena kinerja perusahaan berpotensi tertekan oleh peningkatan ongkos cukai.

Pada 2018, dia memprediksi HMSP dapat membukukan kenaikan pendapatan menuju Rp104,69 triliun dari sebelumnya Rp99,09 triliun. Namun, laba bersih terkoreksi tipis menjadi Rp12,65 triliun dari realisasi 2017 sebesar Rp12,67 triliun.

Head of Research BCA Sekuritas Pandu Anugrah menyampaikan, kinerja penjualan rokok HMSP sesuai dengan estimasi tim analis BCA Sekuritas. Performa tersebut didukung sejumlah produk andalan seperti Marlboro Filter Black dan Dji Sam Soe Magnum Mild.

“Kedua merek merupakan produk SKM [Sigaret Kretek Mesin]. Kinerja HMSP memang lebih ditopang produk dari SKM, sehingga masih bisa di atas kinerja industri,” paparnya dalam riset berbeda.

Pada semester I/2018, penjualan rokok di Indonesia mencapai 144,5 miliar, turun 1,4% yoy dari sebelumnya 146,6 miliar. Perinciannya, kuartal I/2018 sejumlah 69,3 miliar, dan kuartal II/2018 sebanyak 75,2 miliar.

Penjualan pada kuartal II/2018 tumbuh 8,6% secara kuartalan (quarter on quarter/qoq). Kenaikan itu serupa dengan pertumbuhan penjualan HMSP secara qoq yang juga meningkat 8,6%.

Pandu menyampaikan, pemulihan penjualan pada periode April--Juni 2018 menunjukan adanya peningkatan daya beli masyarakat. Namun, momentum kenaikan ini diperkirakan tidak berlanjut pada semester II/2018.

HMSP diperkirakan akan menyesuaikan harga jual agar penjualan tetap meningkat. Pada semester I/2018 perusahaan sudah menaikkan harga sekitar 2%-3% untuk mengimbangi pajak cukai yang lebih tinggi.

Menurutnya, BCA Sekuritas memertahankan rekomendasi hold terhadap saham HMSP dengan target harga Rp4.000. Target itu mencerminkan Price to Earning Ratio (PER) 33 kali, sehingga secara valuasi masih tidak lebih menarik dari saham PT Gudang Garam Tbk. (GGRM).

Tag : hm sampoerna
Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top