China Siap Geser Biaya Impor Kedelai untuk Cadangan Negara

China akan mengganti biaya pembeli yang terkena tarif 25% untuk kedelai yang diimpor dari Amerika Serikat jika kargonya diperuntukkan bagi cadangan negara China.
Mutiara Nabila | 09 Juli 2018 21:46 WIB
Kedelai - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA – China akan mengganti biaya pembeli yang terkena tarif 25% untuk kedelai yang diimpor dari Amerika Serikat jika kargonya diperuntukkan bagi cadangan negara China.

Tambahan pajak yang dikenakan pada sejumlah produk pertanian AS mulai 6 Juli lalu sebagai pembalasan tarif dari Presiden AS Donald Trump senilai US$34 miliar pada barang konsumsi China. Pembeli untuk cadangan negara harus membayar tarif 25% sebelum kemudian diganti oleh pemerintah.

Setidaknya satu kapal tongkang yang mengangkut kedelai AS sedang dalam perjalanan menuju China saat ini untuk memenuhi cadangan negara. Li Qiang, Kepala Analis Shanghai JC Intelligence Co, menuturkan bahwa ada sekitar 20 kargo yang sudah dibeli sebelumnya untuk cadangan negara sudah dibatalkan.

“Harusnya ada kompensasi, karena kargo yang dibeli ditujukan untuk pemerintah,” kata Li, dikutip dari Bloomberg, Senin (9/7/2018). Sejumlah perusahaan China sudah membatalkan dan menjual kembali pembelian kedelai dari AS pada Jumat lalu.

Pengiriman kedelai tersebut tak sempat menyentuh China sebelum tarif mulai berlaku, dengan jarak sekitar 19 mil atau sekitar 30,5 kilometer dari pelabuhan Dalian.

Kargo bermuatan penuh Peak Pegasus terpaksa harus masuk dalam daftar 25% tarif karena melewati waktu pemberlakuan tarif. Pelabuhan tersebut dipadati oleh banyak kedatangan kargo kedelai dan pembongkaran muatannya membutuhkan waktu hingga beberapa pekan.

Kedelai telah menjadi kunci utama dalam kenaikan tensi perang dagang antara AS dan China karena China merupakan pengimpor terbesar di dunia untuk kedelai AS dan Amerika merupakan pelanggan terbesar dalam perdagangan senilai US$14 miliar pada tahun lalu.

Departemen Pertanian AS (USDA) melaporkan bahwa impor China kemungkinan bisa melebihi 100 juta ton pada 2018 – 2019.

Sumber : Bloomberg

Tag : kedelai
Editor : Pamuji Tri Nastiti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top