Reli Harga Kobalt Dinilai Hanya Sementara Saja

Lonjakan permintaan pada kendaraan listrik membuat kobalt dan litium menjadi komoditas yang paling dicari, tetapi sejumlah investor mengungkapkan bahwa outlook dari kedua komoditas itu tak mendukung.
Mutiara Nabila | 09 Juli 2018 21:32 WIB
Pabrik baterai untuk kendaraan listrik BMW Brilliance Auto. - BMW

Bisnis.com, JAKARTA – Lonjakan permintaan pada kendaraan listrik membuat kobalt dan litium menjadi komoditas yang paling dicari, tetapi sejumlah investor mengungkapkan bahwa outlook dari kedua komoditas itu tak mendukung.

Dengan harga yang sudah berlipat ganda dalam tiga tahun terakhir karena adanya kekhawatiran akan penyusutan logam yang dimanfaatkan pada pembuatan baterai itu, bank asal Amerika Merrill Lynch memprediksikan akan ada kelebihan pasokan parah pada pasar litium.

Adapun, CEO Tesla Elon Musk mengungkapkan bahwa jumlah kobalt yang digunakan perusahaannya untuk membuat kendaraan listrik justru hampir habis sama sekali. Subaru Corp. dan Mazda Motor Corp, saat ini juga menjaga fokusnya pada produksi kendaraan konvensional.

“Kegilaan pada permintaan kobalt yang terlihat saat ini sesungguhnya akan segera dikoreksi. Ada banyak ketidakpastian tentang teknologi di masa depan yang akan digunakan dan akan ada banyak energi pengganti yang harus diproduksi, mungkin nanti akan muncul baterai dengan menggunakan hanya sedikit atau bahkan tanpa litium,” ujar Christoph Eibl, CEO Tiberius Group, dilansir dari Bloomberg, Senin (9/7/2018).

Sejumlah analis bank Merrill Lynch termasuk Michael Widmer, produsen kemungkinan hanya akan menambah 815.000 ton litium ke pasar pada 2025, melampaui kenaikan permintaan pada masa itu sejumlah 460.000 ton.

Pelebaran hasil produksi bisa membuat harga litium karbonat terjun hingga sekitar US$10.000 per ton, lebih dari setengah rata-rata harga saat ini di Asia.

Untuk logam kobalt, prediksi Wood Mackenzie Ltd. melaporkan pasokan kobalt akan melebihi permintaan hingga 652 ton pada tahun ini dan akan terus meluas menjadi 20.842 ton pada tahun depan.

Surplus tersebut diperkirakan akan membuat harga kobalt tergelincir hingga menyentuh rata-rata US$62.502 per ton pada 2019, turun 23% dari perkiraan tahun ini. Adapun, pada 2022, rata-rata harganya hanya akan mencapai US$44.585 per ton.

Sebenarnya ada banyak investor yang memberikan nada bullish. Christian Magoon, CEO Amplify ETF, yang mengelola exchange-traded fund (ETF) yang berkaitan dengan produsen baterai logam, mengatakan bahwa asumsi prediksi kelebihan pasokan berarti rencana ekspansi yang diumumkan oleh para produsen akan berjalan sesuasi jadwal, yang sangat jarang terjadi.

“Akan ada masalah klasik pada permintaan dan pasokan yang kemudian memberikan kesempatan bagi investor,” kata Magoon.

Litium tidak diperdagangkan di bursa sehingga membatasi pilihan bagi pengguna dan produsen untuk melindungi posisi mereka. Sementara itu, kobalt diperdagangkan di London Metal Exchange sudah hampir delapan tahun, komoditas itu gagal menarik perhatian investor, dengan agregat open interest terjebak di bawah 1.000 kontrak, kurang dari 5% dari timah, yang diperdagangkan paling sedikit di antara keenam logam industri lainnya.

Ketiadaan likuiditas menjadi alasan utama Darwei Kung, pengelola portofolio senilai US$3,3 miliar di Deutsche Enhance Commodity Strategy Fund, DWS Group, untuk menjauh dari sektor baterai logam. Kung menilai logam itu sulit untuk diperdagangkan.

Sumber : Bloomberg

Tag : komoditas, logam
Editor : Pamuji Tri Nastiti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top