Return Reksa Dana Terangkat Pada Penghujung Tahun

Sejumlah manajer investasi memprediksi kinerja atau imbal hasil yang dihasilkan oleh reksa dana indeks akan kembali terangkat pada tiga bulan terakhir tahun ini.
Tegar Arief | 08 Juli 2018 14:13 WIB
Ilustrasi

Bisnis.com, JAKARTA - Sejumlah manajer investasi memprediksi kinerja atau imbal hasil yang dihasilkan oleh reksa dana indeks akan kembali terangkat pada tiga bulan terakhir tahun ini.

Dari data yang dirilis Infovesta Utama, kinerja reksa dana indeks pada semester I/2018 sangat buruk, menyusul terus melemahnya pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG). Seluruh kinerja produk reksa dana indeks secara year to date per 29 Juni 2018 tercatat negatif.

Presiden Direktur Indo Premier Investment Diah Sofiyanti menjelaskan, IHSG sejak awal tahun turun sekitar 10,1%. Beberapa index yang mewakili semua sektor seperti index LQ45 dan IDX30 juga mengalami penurunan yang berdampak pada turunnya kinerja reksa dana indeks.

"Kami masih memiliki kalkulasi target IHSG di kisaran 6.300-6.700, dengan melihat beta atau sensitivitas masing-masing indeks terhadap IHSG, maka potential upside untuk semester II/2018 masih tetap ada," katanya kepada Bisnis, akhir pekan lalu.

Ovi menambahkan, saat ini merupakan momentum yang tepat bagi investor untuk membeli reksa dana. Kata dia, reksa dana indeks indeks tetap layak untuk dikoleksi dan dapat menjadi alat utk mendapatkan potensi keuntungan terbaik bagi investor.

Dia menargetkan, imbal hasil alias return yang dihasilkan oleh salah satu produknya yakni Premier ETF IDX30 (XIIT) hingga akhir tahun mencapai 14,6%-19,5%, serta kinerja dari LQ45 di kisaran 12,5%-17,5%.

"Tujuan reksa dana indeks adalah untuk merepresentasikan pergerakan indeks acuan seakurat mungkin. Semakin mirip maka akan semakin bagus, sehingga kemanapun arah pasar akan dapat terus diambil peluangnya oleh investor," jelasnya.

Indo Premier merupakan salah satu pemain utama di industri reksa dana indeks dan exchange traded fund (ETF). Dari data Infovesta Utama, perseroan memiliki sebanyak 10 produk hingga akhir bulan lalu.

Kinerja Premier ETF IDX30 pada semester I/2018 turun 15,82%, Premier ETF Indonesia Consumer turun 17,54%, Premier ETF Indonesia Financial turun 16,09%, Premier ETF Indonesia Sovereign Bonds turun 9,14%, dan Premier ETF LQ45 turun 14,95%.

Sedangkan Premier ETF SMINFRA18 turun 17,83%, Premier ETF SRI-KEHATI turun 14,24%, Premier ETF Syariah JII turun 13,27%, Premier IDX 30 turun 15,74%, serta Premier ETF INdonesia State-Owned Companies turun 13,05%.

Produk sejenis lainnya juga tak jauh berbeda. BNI-AM Indeks IDX30 misalnya yang mengalami koreksi sebesar 15,95%, serta Avrist IDX30 yang turun sebesar 16,23% selama enam bulan pertama tahun ini.

Optimisme serupa juga disampaikan oleh Head of Investment Division PT BNI Asset Management Susanto Chandra. Menurutnya, kinerja reksa dana indeks akan kembali terangkat pada kuartal IV/2018.

Penyebabnya adalah stabilisasi nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat, serta konsumsi masyarakat yang akan meningkat menjelang agenda politik pemilihan umum 2019, sehingga indeks berpotensi meningkat ke level 6.137.

"Menurut kami kenaikan akan terjadi pada kuartal IV/2018. Untuk kuartal III/2018 masih ada pelemahan karena arus dana asing masih berpeluang keluar," kata dia.

Keluarnya dana asing itu menurutnya disebabkan oleh sentimen perang dagang yang masih belum mereda. Faktor lain adalah berkurangnya bobot Indonesia di MSCI, serta potensi adanya defisit neraca berjalan pada kuartal II/2018 yang lebih dalam dari ekspektasi.

Head Investment Avrist Asset Management Farash Farich mengatakan, kondisi saat ini hampir sama dengan 2013 dan 2015 silam di mana indeks kala itu turun sekutar 25% dari level tertingginya pada masing-masing tahun.

Namun setelah 12 bulan indeks kembali rebound hingga sekitar 30%. Pada saat turun, indeks LQ45 dan IDX30 underperform IHSG, namun pada saat rebound terjadi outperform lebih banyak.

"Dengan valuasi saat ini, kami melihat indeks berkisar 20% di bawah nilai wajarnya untuk satu tahun ke depan. Kapan rebound akan terjadi, kami belum bisa memprediksi. Tapi dari siklusnya semester kedua biasanya ada perbaikan," jelasnya.

Tag : reksadana
Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top