KINERJA PASAR SAHAM SEMESTER II/2018: Soliditas Ekonomi Jadi Kunci

Sentimen eksternal diprediksi masih akan memberi tekanan terhadap pasar modal pada paruh kedua tahun ini sehingga kunci untuk menenangkan pasar adalah mewujudkan soliditas makroekonomi guna meminimalisasi dampak dari luar.
Emanuel B. Caesario/ Tegar Arief | 02 Juli 2018 12:06 WIB

Bisnis.com, JAKARTA — Sentimen eksternal diprediksi masih akan memberi tekanan terhadap pasar modal pada paruh kedua tahun ini sehingga kunci untuk menenangkan pasar adalah mewujudkan soliditas makroekonomi guna meminimalisasi dampak dari luar.

Proyeksi kinerja pasar saham Juli—Desember 2018 menjadi topik headline koran cetak Bisnis Indonesia edisi Senin (2/7/2018). Berikut laporan selengkapnya.

Pada awal tahun ini, kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat moncer dan bahkan beberapa kali menyentuh rekor baru. Level tertinggi IHSG tercatat 6.689 pada kuartal pertama tahun ini.

Namun, memasuki kuartal II/2018, indeks kembali loyo dengan bergerak di kisaran 5.700-5.800. Secara year to date, IHSG sudah turun 8,75% hingga Jumat (29/6/2018).

Kepala Riset Koneksi Capital Alfred Nainggolan mengatakan antisipasi yang wajib dilakukan pemerintah adalah menciptakan fundamental makroekonomi yang meyakinkan, seperti pencapaian target inflasi dan penguatan neraca perdagangan.

Sementara itu, sentimen yang bisa mendongkrak laju IHSG, menurutnya, akan datang pada Agustus. “Tepatnya saat keputusan mengenai kepastian figur yang akan maju sebagai calon presiden. Dengan kata lain, pada pertengahan kuartal III/2018 pasar modal diyakini akan kembali menggeliat,” ujarnya kepada Bisnis, akhir pekan lalu.

Sementara itu, dua faktor eksternal masih akan mengganggu kinerja IHSG pada paruh kedua tahun ini, yaitu sentimen perang dagang antara China-Amerika Serikat (AS) dan rencana bank sentral AS untuk kembali menaikkan suku bunga.

The Fed, katanya, telah mengumumkan akan menaikkan suku bunga sebanyak 4 kali, di mana saat ini telah direalisasikan sebanyak 2 kali. "Artinya masih ada tekanan terhadap indeks kita karena faktor ini," katanya kepada Bisnis, akhir pekan lalu.

Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Inarno Djajadi menegaskan bahwa yang terjadi di pasar saham beberapa pekan terakhir murni merupakan faktor eksternal, baik perang dagang maupun The Fed.

“Gejolak market memang sangat luar biasa akhir-akhir ini. Kami melihat ini faktor eksternal yang dalam beberapa saat selalu bergejolak. Tetapi kami melihat BI cukup bagus. Kinerja emiten juga cukup positif,” katanya.

Equity Technical Analyst Reliance Sekuritas Indonesia Lanjar Nafi mengatakan intervensi yang dilakukan oleh Bank Indonesia (BI) untuk menstabilkan nilai tukar rupiah cukup positif, dengan menaikkan 7-day Reverse Repo Rate (BI 7-DRR) sebesar 50 basis poin menjadi 5,25%.

“Strategi itu akan efektif untuk menjaga aset investor asing di dalam negeri. Tak lama lagi arus dana asing akan kembali masuk ke pasar modal,” katanya.

Karena itu, Reliance Sekuritas masih mempertahankan target IHSG pada akhir tahun ini di kisaran 6.500-6.800. Adapun, target IHSG yang dipatok oleh Koneksi Capital adalah di kisaran 6.600-6.700.

VALUASI IHSG

Jason Nasrial, Senior Vice President Royal Investium Sekuritas, menjelaskan valuasi IHSG saat mencapai puncaknya pada level 6.689 sudah sangat mahal, dengan tingkat price earning ratio (PER) disetahunkan untuk 2018 sebesar 17,8 kali.

Apabila dibandingkan dengan posisi IHSG pada 2015 di level 4.593 hingga posisi puncak pada kuartal I/2018, IHSG tumbuh hampir 50% dalam periode yang singkat. “Hal itu yang mendorong investor asing mulai merealisasikan keuntungannya,” jelasnya.

Menghadapi sentimen eksternal, Jason menilai IHSG masih berpeluang terkoreksi hingga ke level 5.600—5.500, meskipun sebelumnya bakal menguat dulu ke level 5.800. Peluang peningkatan IHSG, katanya, didukung oleh nilai dolar AS yang sudah overvalue. Padahal AS sendiri tengah mengalami current account deficit yang besar.

“Real interest rate AS juga tidak menarik dibandingkan dengan Indonesia dan emerging market lainnya. Ini yang membuat saya optimistis ISHG bisa balik lagi ke 6.000—6.050 dan rupiah mencapai Rp13.900 pada akhir tahun,” katanya.

Frederik Rasali, Vice President Research Artha Sekuritas, mengatakan dinamika politik dan ekonomi, baik di dalam maupun luar negeri akan membuat IHSG kembali terkoreksi hingga ke level 5.600.

Level tersebut dipilih dengan pertimbangan posisi awal IHSG ketika merespons kenaikan peringkat Indonesia oleh Standard & Poor’s pada pertengahan 2017.

Potensi peningkatan, katanya mungkin saja terjadi. Namun, hal tersebut, menurutnya, akan sangat bergantung pada pengumuman kinerja perekonomian kuartal kedua. Bila asumsi peningkatan konsumsi selama Ramadan memberikan efek yang signifikan terhadap ekonomi, hal tersebut boleh jadi akan menjadi landasan bagi investor untuk kembali percaya diri terhadap pasar Indonesia.

“Kalau konsumsi kita pick up yang tercermin dari inflasi Juni dan laporan keuangan perusahaan ritel dan konsumer juga meningkat dobel digit, itu bisa mendukung IHSG kembali kuat ke level 6.000,” katanya.

Frederik menaruh harapan pada sektor komoditas dan agrikultur yang tengah mengalami peningkatan harga. Namun, mengingat tingginya curah hujan dan periode libur yang panjang pada kuartal kedua, dia menilai sektor ini baru akan terlihat geliatnya pada kuartal ketiga dan keempat.

Keputusan bank sentral menaikkan BI 7-DRR ke level 5,25% di satu sisi akan menolong stabilitas rupiah, tetapi di sisi lain membuka potensi tidak tercapainya target pertumbuhan ekonomi. “Hal ini tentu akan berdampak terhadap fundamental ekonomi Indonesia dan tentu saja kinerja pasar modal. Investor perlu bersikap wait and see dalam waktu dekat, mengingat banyaknya ketidakpastian.”

Edwin Sebayang, Kepala Riset MNC Sekuritas, sependapat bahwa pasar belum akan berhenti untuk turun, sebab sentimen negatif yang ada masih akan berlanjut. “Perkiraan saya, rentang indeks sampai akhir tahun mungkin ada pada 5.820 hingga 6.208. Saya revise down target indeks sampai akhir tahun.”

 

Tag : IHSG
Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top