RISIKO UTANG : Gajah Tunggal (GJTL) Klaim Jaga Hedging pada Level Sesuai

Di tengah pelemahan nilai tukar rupiah yang terus berlanjut, emiten produsen ban PT Gajah Tunggal Tbk. menyebut kondisi finansial perusahaan kondusif meski memiliki utang berdenominasi dolar AS dalam jumlah signifikan.
Dara Aziliya | 01 Juli 2018 14:17 WIB
/Ilustrasi

RISIKO UTANG : GJTL Sebut Jaga Hedging di Level Sesuai

Bisnis.com, JAKARTA – Di tengah pelemahan nilai tukar rupiah yang terus berlanjut, emiten produsen ban PT Gajah Tunggal Tbk. menyebut kondisi finansial perusahaan kondusif meski memiliki utang berdenominasi dolar AS dalam jumlah signifikan.

Direktur Gajah Tunggal Catharina Widjaja mengungkapkan sejak akhir tahun lalu, perusahaan telah menerbitkan sebagian utangnya ke dalam rupiah. Emiten dengan kode saham GJTL itu pun menyebut telah menempuh hedging untuk sejumlah utang perseroan.

“Pada tahun lalu kami ada [melakukan refinancing] senilai US$500 juta. Sebesar US$250 juta kami alokasikan untuk [pembayaran] obligasi, dan US$250 juta untuk pinjaman sindikasi yang sebagiannya kami hedge,” ungkap Catharina di Jakarta, akhir pekan lalu.

Catharina mengungkapkan refinancing senilai US$250 juta tersebut terdiri atas ekuivalen US$40 juta dalam denominasi rupiah, sedangkan sisanya sebesar US$210 juta telah di-hedging oleh Gajah Tunggal. Kondisi ini dinilai dapat meringankan beban utang GJTL.

“Jadi basically separo dari utang kami sudah di-hedge,” kata Catharina.

Adapun, pada 2017 lalu perseroan menerbitkan surat utang senilai US$500 juta dengan menggunakan aset perseroan sebagai jaminan. Dana tersebut digunakan perseroan untuk pelunasan Senior Notes dengan jumlah yang sama.

Kondisi utang Gajah Tunggal sempat menjadi perhatian lembaga pemeringkat Moody’s. Dalam riset yang dipublikasikan pekan lalu, Moody’s memasukkan Gajah Tunggal bersama empat perusahaan di Asia Tenggara dan Asia Selatan sebagai perusahaan yang berisiko goyah jika pelemahan mata uang lokal terus terjadi.

Catharina menyampaikan dengan kondisi ekspor yang sedikit menurun, kinerja perusahaan pada tahun lalu memang berat. Kendati demikian, dia menyebut perusahaan masih dapat meminimalkan berbagai risiko sehingga perusahaan tetap dapat mencatatkan laba bersih.

Pada 2017, GJTL membukukan kenaikan penjualan sebesar 3,8% dibandingkan 2016 yaitu sebesar Rp14,15 triliun. Pertumbuhan penjualan tersebut didorong oleh kinerja yang kuat di pasar domestik yang tumbuh 8,9% (yoy).

Kendati demikian, pada tahun lalu perseroan membukukan laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp45,03 miliar, terkoreksi dalam 92,81% dibandingkan laba bersih perseroan pada 2016 yang sebesar Rp626,56 miliar.

Pada tahun ini, Gajah Tunggal membidik perluasan ekspor ke Uni Eropa dan Benua Afrika untuk menyubtitusi beban perseroan dari pelemahan rupiah. Dengan penambahan pasar-pasar ekspor baru, GJTL menargetkan kenaikan penjualan pada kisaran 10% selama 2018.

Tag : gajah tunggal
Editor : Riendy Astria

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top