BI Katrol Suku Bunga Acuan, IHSG Ditutup Rebound Tajam

IHSG ditutup menguat 2,33% atau 131,92 poin ke level 5.799,24 setelah dibuka di zona hijau dengan penguatan 0,43% atau 24373 poin ke level 5.691,69. Pada perdagangan Kamis (28/6), IHSG ditutup merosot 2,08% atau 120,23 poin di posisi 5.667,32.
Aprianto Cahyo Nugroho | 29 Juni 2018 16:47 WIB
Mahasiswa berjalan di dekat monitor pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Selasa (3/4/2018). - JIBI/Nurul Hidayat

Bisnis.com, JAKARTA— Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup rebound dan menguat lebih dari 2% pada akhir perdagangan hari ini, Jumat (29/6/2018), setelah Bank Indonesia memutuskan untuk menaikkan suku bunga acuan.

IHSG ditutup menguat 2,33% atau 131,92 poin ke level 5.799,24 setelah dibuka di zona hijau dengan penguatan 0,43% atau 24373 poin ke level 5.691,69. Pada perdagangan Kamis (28/6), IHSG ditutup merosot 2,08% atau 120,23 poin di posisi 5.667,32.

Sepanjang hari ini, IHSG bergerak pada kisaran 5.682,66-5.799,24. Dari 588 saham yang diperdagangkan hari ini, sebanyak 208 saham menguat, 194 saham melemah, dan 186 saham stagnan.

Berdasarkan data Bloomberg, delapan dari sembilan indeks sektoral IHSG berakhir di zona hijau, dengan sektor industri dasar menguat paling signifikan sebesar 3,17%, disusul sektor tambang yang menguat 2,85%. Adapun sektor pertanian melemah 0,01%.

Sejalan dengan IHSG, indeks Bisnis-27 ditutup rebound dengan penguatan 3,29% atau 15,87 poin ke level 497,94, setelah dibuka di zona hijau dengan penguatan 0,75% atau 3,63 poin di posisi 485,71.

Penguatan IHSG terjadi setelah Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia hari ini memutuskan untuk menaikkan suku bunga acuan BI 7-Day Repo Rate sebesar 50 basis poin menjadi 5,25%.

Suku bunga Deposit Facility (DF) juga naik 50 bps menjadi 4,50%, dan suku bunga Lending Facility (LF) sebesar 50 bps menjadi 6%, berlaku efektif sejak 29 Juni 2018.

Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengungkapkan keputusan ini merupakan langkah lanjutan otoritas untuk menjaga daya saing pasar keuangan domestik terhadap perkembangan kebijakan moneter sejumlah negara dan ketidakpastian pasar global yang masih tinggi.

Kebijakan itu akan tetap ditopang intervensi ganda di pasar valas, SBN serta strategi di pasar uang rupiah, dan pasar swap antarbank. "Kebijakan tersebut dimaksudkan untuk memperkuat stabilisasi nilai tukar," tegas Perry dalam paparan hasil RDG, Jumat (29/6/2018).

Kendati suku bunga adalah musuh terbesar pasar modal, Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Inarno Djajadi menilai kebijakan ini telah diantisipasi sejak jauh-jauh hari oleh pelaku pasar.

"Pasar sudah mengantisipasi sejak jauh-jauh hari sehingga dampaknya ke indeks tidak akan terlalu signifikan, dan kebijakan ini memang harus dieksekuai," kata dia di Jakarta, Jumat (29/6/2018).

Inarno menjelaskan, dalam beberapa pekan terakhir pasar memang cukup bergejolak oleh kondisi eksternal sehingga nilai tukar rupiah turut tertekan. Atas dasar itulah Bank Indonesia harus bertindak.

Sedangkan di pasar modal, menurutnya psikologi pasar sudah cukup maklum jika bank sentral menyesuaikan suku bunga. "Karena memang untuk menstabilkan nilai tukar rupiah suku bunga harus naik," tegasnya.

IHSG menguat di saat mayoritas indeks lainnya di Asia Tenggara juga bergerak menguat, dengan hanya indeks SE Thailand yang melemah 0,58% sedangkan indeks FTSE Malay KLCI menguat 1,55%, indeks FTSE Straits Time menguat 0,59%, dan indeks PSEi Filipina naik 1,8%,

Saham-saham pendorong IHSG:

Kode

(%)

BBRI

+4,36

BMRI

+3,85

UNVR

+2,97

HMSP

+1,99

Saham-saham penekan IHSG:

 Kode

(%)

IMAS

-11,11

INAF

-8,26

SDRA

-16,67

TKIM

-1,51

Sumber: Bloomberg

Tag : IHSG, Indeks BEI
Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top