Rupiah Anjlok Terendah Sejak Oktober 2015, Pasar dalam Tekanan

Rupiah merosot ke level terendahnya sejak Oktober 2015 karena kekhawatiran perang dagang terus mendorong investor untuk melakukan aksi jual mata uang Emerging Market (EM) meskipun Bank Indonesia diprediksi meningkatkan suku bunga pada Jumat (29/6).
Mutiara Nabila | 28 Juni 2018 21:23 WIB
Petugas memeriksa uang di cash center'Plaza Mandiri, Jakarta, Senin (15/5). - Antara/Akbar Nugroho Gumay

Bisnis.com, JAKARTA – Rupiah merosot ke level terendahnya sejak Oktober 2015 karena kekhawatiran perang dagang terus mendorong investor untuk melakukan aksi jual mata uang Emerging Market (EM) meskipun Bank Indonesia diprediksi meningkatkan suku bunga pada Jumat (29/6).

Pada perdagangan Kamis (28/6), mata uang Garuda ditutup anjlok 215 poin atau 1,52% menjadi Rp14.394 per dolar AS.

Bank Indonesia diprediksikan akan menaikkan suku bunganya menjadi 5% pada pertemuannya Jumat (29/6), akan menjadi kenaikan suku bunga untuk yang ketiga kalinya dalam enam pekan.

Guillermo Osses, Kepala Strategi Utang Emerging Market di Man GLG, mengatakan bahwa obligasi Indinesia akan tetap berada dalam tekanan meskipun ada intervensi dari Bank Indonesia (BI).

“Kesempatannya kecil untuk melihat kemerosotan signifikan pada kemerosotan aset seperti yang terjadi di Malaysia, maka pasar masih berada dalam tekanan,” kata Osses, dikutip dari Bloomberg, Kamis (28/6/2018).

Imbal hasil untuk tenor 10 tahun naik 7 basis poin menjadi 7,86% dan tercatat sebagai yang tertinggi sejak Januari 2017.

“Obligasi imbal hasil untuk tenor 10 tahun itu tengah melakukan penyesuaian dan akan semakin seimbang,” ujar Luky Alfirman, Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan Indonesia.

Dana global menjual US$245,5 juta obligasi Indonesia pada 25 Juni lalu, membawa outflow dari awal kuartal kedua hingga hari ini menjadi US$1,89 miliar.

Sumber : Bloomberg

Tag : Gonjang Ganjing Rupiah
Editor : Pamuji Tri Nastiti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top