Ini 6 Faktor Pemicu Koreksi Pasar Usai Libur Lebaran

MNC Sekuritas mencatat ada 6 faktor yang menyebabkan terjadinya koreksi yang cukup besar pada IHSG sepanjang pekan ini usai berakhirnya libur Lebaran.
Emanuel B. Caesario | 22 Juni 2018 20:25 WIB
Karyawan beraktivitas di dekat monitor pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Rabu (23/5/2018). - JIBI/Nurul Hidayat

Bisnis.com, JAKARTA — MNC Sekuritas mencatat ada 6 faktor yang menyebabkan terjadinya koreksi yang cukup besar pada IHSG sepanjang pekan ini usai berakhirnya libur Lebaran.

Sepanjang pekan ini, IHSG telah mengalami koreksi sebesar 4,08% menuju level 5821.8 pada penutupan perdagangan Jumat (22/6/2018).

Edwin Sebayang, Kepala Riset MNC Sekuritas, mengatakan bahwa sedikitnya ada 6 faktor yang menyebabkan terjadinya koreksi tajam pada IHSG sepanjang pekan ini usai berakhirnya libur lebaran.

Pertama, koreksi ini merupakan bentuk penyesuaian pasar terhadap penurunan signifikan yang telah terjadi lebih dahulu di bursa saham regional selama periode libur lebaran di Indonesia. Selama periode libur lebaran, The Fed telah menaikkan suku bunganya dan mengindikasikan masih akan menaikkan lagi suku bunganya di sisa tahun ini.

“Kata berlanjut ini yang digarisbawahi investor,” katanya Jumat (22/6/2018).

Kedua, kenaikan Fed Fund Rate tersebut menyebabkan meningkatnya tekanan terhadap mata uang rupiah, seiring terjadinya capital outflow dari pasar Indonesia ke Amerika Serikat. Nilai tukar rupiah yang sebelumnya sempat menguat ke bawah Rp14.00 per dollar kini melemah lagi hingga Rp14.100.

Ketiga, selama periode liburan harga sejumlah komoditas global selain batu bara mengalami kejatuhan yang cukup signifikan, seperti minya, nikel dan timah. Investor baru dapat menyesuaikan perubahan tersebut pada pekan ini.

Keempat, Bank Indonesi kemungkinan besar akan kembali menaikkan suku bunga BI 7 Days Repo Rate pada rapat dewan gubernur pekan depan dan kemungkinan tidak akan berhenti sampai di situ bila menimbang The Fed yang berpotensi menaikkan FRR hingga 2 kali lagi tahun ini.

Edwin memperkirakan, kenaikan BI 7DRR akan mencapai 5,25% hingga 5,5% tahun ini. Hal ini akan sangat besar pengaruhnya pada kinerja ekonomi nasional mengingat selama era suku bunga rendahpun pertumbuhan ekonomi nasional cenderung flat.

“Kenaikan suku bunga akan berdampak pada kinerja emiten tahun ini dan tahun depan sehingga direspon pasar dengan kejatuhan harga saham saat ini,” katanya.

Kelima, sentimen perang dagang antara Amerika Serikat dan China kembali memanas selama liburan sehingga menambah kekhawatiran investor global dan mendorong pasar cenderung wait and see.

Keenam, aksi jual investor asing yang sangat tinggi sepanjang pekan ini. Aksi jual investor asing dalam tiga hari perdagangan pada pekan ini mencapai Rp3,8 triliun. Sepanjang bulan ini, net sell asing mencapai Rp7,14 triliun.

Edwin mengatakan, keenam faktor ini masih akan terus membayangi kinerja pasar beberapa pekan ke depan, bahkan hingga akhir tahun.

Tag : IHSG
Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top