IHSG Tertekan, Waspadai Saham yang Sensitif Suku Bunga

Pergerakan emiten yang masuk ke dalam sektor saham perbankan dan konstruksi berpotensi tertekan akibat imbas dari sentimen global yang turut menekan indeks harga saham gabungan.
M. Nurhadi Pratomo | 20 Juni 2018 20:52 WIB
Karyawan melintas di dekat monitor pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (12/2/2018). - JIBI/Nurul Hidayat

Bisnis.com, JAKARTA—Pergerakan emiten yang masuk ke dalam sektor saham perbankan dan konstruksi berpotensi tertekan akibat imbas dari sentimen global yang turut menekan indeks harga saham gabungan.

Berdasarkan data statistik Bursa Efek Indonesia, indeks harga saham gabungan (IHSG) tersungkur 113,071 poin atau 1,85% ke level 5.993,627 pada penutupan perdagangan, Rabu (20/6/2018). Sektor saham keuangan tercatat mengalami koreksi 3,03% sementara sektor saham infrastruktur, utilitas, dan transportasi tergerus 2,45%.

Frankie Wijoyo Prasetio, Head of Equity Trading Phintraco Sekuritas Medan menilai pergerakan IHSG pada perdagangan perdana usai Lebaran 2018 diwarnai isu perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China. Kondisi itu menurutnya berdampak terhadap reli nilai tukar rupiah terhadap dolar yang menembus level psikologis Rp14.000.

Dia memproyeksikan apabila kondisi tersebut terus berlanjut maka Bank Indonesia akan segera mengerek suku bunga acuan. Bahkan, diprediksi kenaikan akan lebih agresif dibandingkan dengan sebelumnya.

“Hal ini menyebabkan saham-saham dengan cost of fund tinggi menjadi tertekan utamanya sektor perbankan dan sektor konstruksi,” ujarnya kepada Bisnis.com, Rabu (20/6/2018).

Frankie memaparkan IHSG cenderung terkoreksi pada periode Juni selama rentang 2013-2017. Tercatat, pergerakan indeks hanya positif pada Juni 2016 dan Juni 2017.

Dia mengatakan pergerakan indeks pada periode Juni hingga November setiap tahunnya kerap mengalami penurunan. Pada Juni 2013 dan Juni 2015 misalnya, IHSG tertekan akibat capital outflow.

“Memang pada periode Juni hingga November [setiap tahunnya] cenderung terjadi turbulensi sementara Desember hingga Mei relatif stabil,” imbuhnya.

Sementara itu, JKON mengantongi pendapatan Rp4,49 triliun pada 2017. Jumlah tersebut tergerus 3,34% secara tahunan atau Rp4,65 triliun pada periode sebelumnya.

Tag : saham
Editor : Ana Noviani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top