Kekeringan Ancam Pasokan Gandum di Bursa Chicago

Perdagangan gandum di Chicago Board of Trade naik untuk empat sesi berturut terdorong oleh ekspektasi penurunan pasokan dan produksi di wilayah Laut Hitam.
Mutiara Nabila | 11 Juni 2018 14:09 WIB
Ladang gandum. - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA—Perdagangan gandum di Chicago Board of Trade naik untuk empat sesi berturut terdorong oleh ekspektasi penurunan pasokan dan produksi di wilayah Laut Hitam.

Pada perdagangan Senin (11/6) di Chicago Board of Trade (CBOT), harga gandum terkerek 3,35 poin atau 0,63% menjadi US$523,25 sen per bushel. Secara year-to-date (ytd) harga gandum mengalami lonjakan sebesar 22,54%.

Kekeringan yang melanda pengekspor gandum utama Rusia dan Ukraina telah mendorong pasar gandum.

Departemen Pertanian AS mengungkapkan bahwa produksi komoditas gandum Rusia diperkirakan akan merosot hingga sejumlah sekitar 72 juta ton pada tahun panen Juni 2018 hingga Juni 2019, dibandingkan dengan rekor hasil produksi sejumlah 84,99 juta ton pada semester I tahun ini.

Dilansir dari Reuters, Senin (11/6/2018), Badan Pusat Hidrometeorologi Ukraina menyatakan bahwa kekeringan yang turut melanda wilayah Timur dan Selatan Ukraina juga menyusutkan hasil panen gandum Ukraina pada kisaran 15%—30% di bawah perkiraan.

Ukraina belum mengalami hujan deras lagi sejak April dan tidak akan ada ramalan hujan dalam sepekan ke depan. Temperatur yang tinggi dan curah hujan yang sedikit dapat mengurangi hasil panen gandum.

Perusahaan Commerzbank memprediksi perdagangan berjangka gandum di CBOT, harga komoditas biji-bijian itu diramalkan akan tetap berada di atas US$500 sen per bushel pada semester II/2018.

Level itu menunjukkan adanya pengurangan produksi karena pengaruh cuaca pada sejumlah wilayah produksi.

Sementara itu, petani di wilayah bagian Barat yang fokus pada ekspor Australia masih tenang karena mendapat curah hujan yang cukup pada akhir masa panen gandum pada musim dingin, meskipun kondisi di wilayah Timur masih mengalami kekeringan.

Curah hujan tersebut telah membantu memulihkan produksi di Ukraina setelah sebelumnya mengalami kondisi sulit dan mengancam jumlah hasil panen untuk musim kedua beturut-turut di negara pengekspor gandum keempat terbesar di dunia tersebut.

Harga biji-bijian lainnya ikut terkerek pada perdagangan di CBOT, Senin (11/6). Tercatat harga jagung naik 0,50 poin atau 0,13% menjadi US$378,25 sen per bushel, naik 7,84% secara ytd.

Selanjutnya, harga komoditas kedelai tak bergerak dari penutupan sesi sebelumnya pada US$969.25 sen per bushel. Harga komoditas itu naik 1,84% selama tahun berjalan.

Sumber : Reuters

Tag : komoditas, gandum
Editor : Pamuji Tri Nastiti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top