Instruksi Trump Tekan Produsen Mobil, Pasar Jepang Melemah

Indeks Topix Jepang terus terkoreksi pada akhir perdagangan hari keempat berturut-turut, Kamis (24/5/2018), pelemahan terpanjang dalam 11 pekan, seiring berlanjutnya penguatan nilai tukar yen.
Renat Sofie Andriani | 24 Mei 2018 15:39 WIB
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump. - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA – Indeks Topix Jepang terus terkoreksi pada akhir perdagangan hari keempat berturut-turut, Kamis (24/5/2018), pelemahan terpanjang dalam 11 pekan, seiring berlanjutnya penguatan nilai tukar yen.

Gerak Topix juga terbebani penyelidikan yang dilakukan pemerintah Amerika Serikat (AS) mengenai apakah impor mobil dan truk mengancam keamanan nasional AS.

Indeks Topix dibuka turun 0,36% atau 6,54 poin di level 1.790,77 dan berakhir melemah 1,21% atau 21,66 poin di level 1.775,65. Dari 2.080 saham pada indeks Topix, 445 saham di antaranya menguat, 1.565 saham melemah, dan 70 saham stagnan.

Saham Toyota Motor Corp. dan Honda Motor Co. Ltd. yang masing-masing anjlok 3,05% dan 3,39% menjadi penekan utama terhadap pelemahan Topix pada akhir perdagangan hari ini.

Sejalan dengan Topix, indeks Nikkei 225 lanjut melemah 1,11% atau 252,73 poin dan ditutup di level 22.437,01, setelah berakhir melemah 1,18% atau 270,60 poin di posisi 22.689,74 pada perdagangan Rabu (23/5/2018).

Sebanyak 32 saham menguat, 189 saham melemah, dan 4 saham stagnan dari 225 saham pada indeks Nikkei.

Saham SoftBank Group Corp. dan FANUC Corp. yang masing-masing anjlok 2,79% dan 2,21% menjadi penekan utama terhadap koreksi Nikkei.

Sementara itu, nilai tukar yen hari ini lanjut terapresiasi 0,52% atau 0,57 poin ke posisi 109,51 per dolar AS pada pukul 14.05 WIB, setelah berakhir menguat 0,74% atau 0,82 poin di level 110,08 pada perdagangan Rabu (23/5).

Yen menguat untuk perdagangan hari ketiga berturut-turut setelah dolar AS mengikis kenaikannya pascarilis risalah rapat kebijakan The Fed (FOMC minutes).

Meski para pembuat kebijakan The Fed tampak siap menaikkan suku bunga acuannya pada Juni, tidak ada kejelasan mengenai berapa kali suku bunga akan naik lebih lanjut tahun ini, pasca kenaikan pada pertemuan kebijakan Juni.

Sementara itu, pelemahan kinerja produsen mobil menjadi penekan terbesar pada Topix setelah Presiden AS Donald Trump menginstruksikan Departemen Perdagangan memulai penyelidikan tersebut.

Langkah ini dinilai dapat mendorong AS untuk menerapkan tarif baru terhadap kendaraan-kendaraan yang datang dari luar negara.

Pelemahan saham juga dipengaruhi sejumlah risiko global, mulai dari ketidakpastian rencana tatap muka para pemimpin AS dan Korea Utara hingga krisis mata uang Turki.

“Kita melihat lebih banyak faktor negatif untuk bursa saham Jepang dengan penguatan yen, tarif mobil, dan risiko geopolitik seputar Korea Utara,” kata Tomoichiro Kubota, seorang analis di Matsui Securities Co, seperti dikutip Bloomberg.

“Secara khusus, tarif mobil bisa memiliki dampak yang lebih besar terhadap Jepang daripada tarif baja, jadi kita harus lebih berhati-hati terhadap perkembangan apa pun sehubungan dengan isu ini,” tambahnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
bursa jepang

Editor : Martin Sihombing

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top