China Setuju Tingkatkan Impor Dari AS

China setuju untuk meningkatkan pembelian barang dan jasa dari Amerika Serikat, tanpa menyebutkan target US$200 miliar yang disebutkan Gedung Putih sebelumnya.
Mutiara Nabila | 21 Mei 2018 16:39 WIB
Ilustrasi. - JIBI

Bisnis.com, JAKARTA–China setuju untuk meningkatkan pembelian barang dan jasa dari Amerika Serikat, tanpa menyebutkan target US$200 miliar yang disebutkan Gedung Putih sebelumnya.

Beijing dan Washington setuju akan terus melakukan diskusi tentang langkah-langkah China yang berencana akan mengimpor komoditas energi dan pertanian dalam jumlah yang lebih banyak dari AS untuk menutupi defisit perdagangan tahunan barang dan jasa AS dengan China yang mencapai US$335 miliar.

Dilansir dari Reuters, Minggu (20/5/2018), pernyataan bersama yang dikeluarkan kedua negara tersebut tidak menunjukkan apakah kedua negara itu akan menunda penjatuhan ancaman pajak yang bernilai miliaran dolar AS pada barang dan jasa dari masing-masing negara yang sebelumnya telah menimbulkan kekhawatiran perang dagang dan mengguncang pasar finansial.

Pernyataan bersama itu menyebutkan bahwa ada konsensus tentang pengambilan langkah-langkah untuk mengurangi defisit perdagangan barang dan jasa antara AS dengan China secara signifikan.

Untuk memenuhi kebutuhan pertumbuhan konsumsi China dan kebutuhan perkembangan ekonomi yang berkualitas, China akan meningkatkan pembelian barang dan jasa dari AS.

Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump memberi ancaman akan menjatuhkan pajak hingga US$150 miliar untuk barang-barang dari China sebagai reaksi terhadap Beijing yang disebut-sebut telah menyalahgunakan properti intelektual AS dengan persyaratan kerja sama dan kebijakan lain yang memaksa AS untuk melakukan transfer teknologi.

Mendengar kabar tersebut, Beijing menyangkal dan memberikan ancaman serupa, termasuk pajak pada sejumlah impor terbesar dari AS, seperti pesawat terbang, kedelai, dan mesin kendaraan.

Agen berita pemerintah China Xinhua pada Minggu (20/5) menjelaskan bahwa pernyataan tersebut dinilai sebagai “perjanjian untuk tidak meluncurkan perang dagang terhadap satu sama lain”.

Sementara kedua negara itu mengumumkan akan bersatu untuk menyelesaikan masalah ekonomi dan perdagangan masing-masing, keduanya tidak menyebutkan hal apapun terkait dengan pajak.

Pernyataan tersebut mengungkapkan adanya konsensus antara pihak Washington dan Beijing terkait dengan keperluan untuk membentuk kondisi yang baik untuk meningkatkan sektor perdagangan barang dan jasa. Hal itu dapat merujuk pada keinginan China sebelumnya, yang menyatakan akan lebih membuka sektor ekonomi dan jasa.

Komentar yang diterbitkan di Xinhua terkait dengan persetujuan perdagangan antara AS dan China menjelaskan bahwa perjanjian itu dapat membantu AS untuk mengurangi defisit perdagangannya ke China dengan mengizinkan China untuk melakukan diverisifikasi dan meningkatkan kualitas impornya.

Pihak AS juga akan mengirim tim ke China untuk membahas mengenai peningkatan ekspor komoditas energi dan pertanian, tanpa menjelaskan keterangan waktu.

Pada diskusi AS-China itu, salah satu anggota pemerintahan Presiden China Xi Jinping mempertimbangkan untuk membentuk paket terkait dengan pembelian utama dari gas alam cair (liquefied natural gas/LNG), termasuk kontrak dengan perusahaan AS untuk membangun fasilitas penerimaan dan pemrosesan LNG di China.

Paket tersebut juga akan menyertakan perjanjian untuk komitmen baru pada perlindungan kekayaan intelektual yang kemungkinan akan ditandatangani pada kunjungan pertengahan tahun oleh Wakil Presiden China Wang Qishan ke Washington.

Sumber : Bloomberg/Reuters

Tag : impor, perang dagang AS vs China
Editor : Pamuji Tri Nastiti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top