Permintaan Baja China Cenderung Melesu Hingga 2019

World Steel Association (worldsteel) memproyeksikan bahwa permintaan baja China pada 2018 akan datar serta melambat di 2019 seiring dengan asumsi bahwa China akan kembali kepada tren deselerasi (pengurangan kecepatan).
Eva Rianti | 18 April 2018 19:49 WIB
Industri baja - Bisnis.com

Bisnis.com, JAKARTA – World Steel Association (Worldsteel) memproyeksikan bahwa permintaan baja China pada 2018 akan datar serta melambat di 2019 seiring dengan asumsi bahwa China akan kembali kepada tren deselerasi (pengurangan kecepatan).

“Permintaan baja pada 2018 diperkirakan akan tetap datar. Adapun, pada 2019 diperkirakan akan mengalami kontraksi sebesar 2,0% dengan perlambatan lebih lanjut dalam aktivitas konstruksi,” papar Worldsteel dikutip Bisnis pada Rabu (18/4/2018).

Worldsteel menilai bahwa pada 2018 dan 2019 pertumbuhan PDB Negeri Panda diperkirakan akan melambat sedikit, namun karena pemerintah terus fokus pada pergeseran pertumbuhan menuju konsumsi, investasi kemungkinan akan melambat lebih jauh.

“Pada 2017, langkah-langkah stimulus pemerintah telah memberikan beberapa dorongan untuk kegiatan konstruksi, tetapi investasi terus melambat dan permintaan baja hanya menunjukkan peningkatan moderat,” lanjutnya.

Di sektor manufaktur diperkirakan bakal mempertahankan pertumbuhan positif ditopang oleh ekonomi global yang kuat, sedangkan sektor otomotif dan peralatan rumah diperkirakan melambat.

Sebagai informasi, baja merupakan komoditas yang sangat terpengaruh oleh pertumbuhan ekonomi global karena produk baja digunakan pada hampir seluruh sektor industri, seperti manufaktur, konstruksi, perumahan, transportasi, otomotif, dan pertahanan.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
komoditas, baja

Editor : Pamuji Tri Nastiti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top