Aluminium Terus Reli, Industri Pengolah Kalang Kabut

Harga alumina merangkak mencapai rekor tertinggi karena pembeli mulai kebingungan untuk menyimpan pasokan setelah stok bahan mentah untuk membuat aluminium tersebut terganggu karena sanksi Amerika Serikat terhadap perusahaan United Co. Rusal.
Mutiara Nabila | 18 April 2018 17:29 WIB
Ilustrasi. - JIBI

Bisnis.com, JAKARTA – Harga alumina merangkak mencapai rekor tertinggi karena pembeli mulai kebingungan untuk menyimpan pasokan setelah stok bahan mentah untuk membuat aluminium tersebut terganggu karena sanksi Amerika Serikat terhadap perusahaan United Co. Rusal.

Harga Aluminium pada penutupan perdagangan Selasa (17/4/2018) tercatat naik 6 poin atau 0,25%. Secara year-to-date tercatat mengalami kenaikan 6,04% di London Metal Exchange (LME).

Harga Aluminium melonjak ke level tertinggi sejak 6 tahun terakhir karena pembeli kebingungan mengatasi masalah pasokan global yang berlangsung lebih dari seminggu setelah AS memberikan sanksi terhadap perusahaan pengolah aluminium Rusal milik Rusia.

Harga logam tersebut merangkak naik 1,7% menjadi US$2445 per metrik ton dalam perdagangan di London Metal Exchange, level tertinggi harian sejak September 2011. Harga tidak berhenti naik sejak sanksi diumumkan pada 6 April lalu. Kenaikan tersebut dinilai pasar sudah melampaui batas.

Sanksi terhadap Rusal, yang menyumbang 17% pasokan aluminium global setelah China, telah menggiring pembeli untuk segara mencari pengirim alternatif, yang membuat harga naik lebih dari 20%.

Seiring dengan naiknya harga aluminium, harga alumina juga ikut melonjak. T.K. Chand, pimpinan Nalco di India mengatakan, reli harga alumina juga terpicu oleh pemangkasan prosuksi di Brasil, yang diprediksi dapat mencapai US$650 per metrik ton untuk kurun waktu 5 – 6 bulan.

Pekan lalu, Nalco menjual pengiriman alumina sebanyak 30.000 ton dengan harga US$601 per ton, dibandingkan dengan harga pada 2006 yang menyentuh US$633. Jumlah penawar juga meningkat dari yang biasanya hanya 7 hingga 8 orang, saat ini menjadi 13 orang.

Harga logam yang biasa digunakan untuk pembuatan kaleng hingga mesin pesawat ini melonjak ke level tertinggi setelah 6 tahun, sejak Rusal tidak lagi melakukan pengiriman pasokan dan mulai mencari pembeli baru untuk logam lain seperti bauksit dan sumber alumina. Hal itu disebabkan oleh pemangkasan produksi yang dilakukan oleh Alunorte Norsk Hydro ASA, penambang alumina terbesar di Brasil.

“Seluruh pabrik pengolah aluminium saat ini khawatir jika alumina pasokan alumina sudah benar-benar habis. Oleh karena itu, mereka mulai membeli dan menumpuk pasokan. Sekali perilaku tersebut muncul dalam pasar, maka harga akan bergerak ke level sangat tinggi” ujar Chand, dikutip dari Bloomberg (18/4/2018).

Nalco berekspektasi untuk bisa meningkatkan pengiriman alumina sebanyak 60.000 ton pada tahun ini dari sebelumnya hanya 1,3 juta ton di akhir tahun finansial pada 31 Maret. Pembelinya kebanyakan dari Timur Tengah, Asia Tenggara, dan China.

Harga aluminium diprediksi akan terus naik karena sanksi tersebut terlihat masih terus berlanjut untuk beberapa waktu dan pasokan alumina juga akan terus mengetat.

Sumber : Bloomberg

Tag : aluminium
Editor : Pamuji Tri Nastiti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top