Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Kinerja 2017: Laba Bersih Gajah Tunggal (GJTL) Turun Tajam

PT Gajah Tunggal Tbk merealisasikan pertumbuhan penjualan sebesar 3,8% yoy sepanjang tahun 2017, meningkat dari Rp13,6 triliun pada 2016 menjadi Rp14,15 triliun pada 2017.
Emanuel B. Caesario
Emanuel B. Caesario - Bisnis.com 29 Maret 2018  |  12:27 WIB
/Ilustrasi
/Ilustrasi

Bisnis.com, JAKARTA—PT Gajah Tunggal Tbk merealisasikan pertumbuhan penjualan sebesar 3,8% yoy sepanjang 2017, meningkat dari Rp13,6 triliun pada 2016 menjadi Rp14,15 triliun pada 2017.

Pertumbuhan penjualan didorong oleh kinerja yang kuat di pasar domestik, di mana penjualan tumbuh sebesar 9,8% YoY. Kinerja domestik yang menguat ini mengimbangi kelemahan penjualan ekspor perusahaan, yang menurun sebesar 4,9% YoY.

Margin kotor perusahaan menurun dari 23,4% pada 2016 menjadi 17,4% pada 2017, terutama dikarenakan meningkatnya biaya produksi, akibat dari harga bahan baku utama yang lebih tinggi.

Dalam keterangan resmi pada Kamis (29/3/2018), manajemen perseroan mengungkapkan bahwa meskipun harga karet alam menurun dari musim puncaknya menjelang akhir kuartal I/2017, dampak positif terhadap marjin kotor perusahaan dialami pada kuartal IV/2017, dikarenakan jeda waktu seperti biasanya.

Oleh karena itu, margin laba kotor kuartal IV/2017 meningkat dibandingkan dengan kuartal III/2017. Perusahaan mengalami penurunan biaya operasional pada 2017 dibandingkan dengan 2016 yang membantu penurunan margin operasi perusahaan.

EBITDA perusahaan menurun dari Rp2,28 triliun atau US$171,1 juta pada 2016 menjadi Rp1,67 triliun atau US$125,2 juta pada 2017. Perusahaan mencatat laba bersih yang lebih rendah pada 2017 dibandingkan dengan 2016 karena adanya satu biaya yang dikeluarkan selama tahun tersebut.

Perusahaan mencatat kerugian pada penarikan produk karena penarikan produk secara sukarela (voluntary product recall) yang dilakukan pada Juli 2017, merupakan perpanjangan dari penarikan sukarela yang dimulai pada September 2016.

Selanjutnya, biaya yang terkait dengan pembiayaan utang obligasi senilai US$500 juta yang jatuh tempo pada tahun 2018, berdampak pada laba bersih 2017 perusahaan.

Laba bersih perusahaan menurun dari Rp626,6 miliar pada 2016 menjadi Rp45,0 miliar pada 2017. Maka, laba bersih emiten berkode saham GJTL ini turun 92,81% secara year-on-year.

Leverage

Perusahaan membiayai kembali Senior Secured Notes sebesar 7,75% yang jatuh tempo pada tahun 2018. Pada tanggal 28 Juli 2017, perusahaan menandatangani Senior Secured Syndicated Financing Facility Agreement senilai ekuivalen US$250 juta (US$210 juta dan Rp534,2 miliar) dengan jangka waktu 5 tahun.

Fasilitas tersebut akan diamortisasi dan pokok pinjaman dalam mata uang dolar Amerika dilakukan lindung nilai (hedge).

Selanjutnya, pada tanggal 3 Agustus 2017, perusahaan menerbitkan Senior Secured Notes senilai US$250 juta, bunga sebesar 8,375% yang akan jatuh tempo pada tahun 2022.

Perusahaan telah menebus Senior Secured Notes 2018 dengan harga pelunasan opsional sebesar US$101.9375 pada tanggal 11 September 2017.

Sebagaimana yang ditetapkan dalam Perjanjian Senior Secured Syndicated Financing Facility, perusahaan diharuskan memiliki rasio leverage yang disesuaikan sebesar 3,5 kali pada akhir kuartal I/2018.

Rasio leverage perusahaan yang disesuaikan menurun dari 4,1 kali pada akhir periode 9 bulan 2017 menjadi 3,8 kali pada akhir 2017. Dengan demikian, perusahaan membuat kemajuan dalam memenuhi perjanjian.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

gajah tunggal
Editor : Ana Noviani

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top