Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Harga Kakao Tembus Level Tertinggi Sejak November 2016

Harga kakao mencapai level tertinggi sejak pertengahan November 2016 seiring dengan kondisi fundamental yang mendukung penguatan harga. Diproyeksikan, harga kakao hingga akhir kuartal I/2018 akan bergerak positif di kisaran US$2.650-US$2.700 per ton.
Eva Rianti
Eva Rianti - Bisnis.com 26 Maret 2018  |  21:19 WIB
Ilustrasi. - JIBI
Ilustrasi. - JIBI

Bisnis.com, JAKARTA – Harga kakao mencapai level tertinggi sejak pertengahan November 2016 seiring dengan kondisi fundamental yang mendukung penguatan harga. Diproyeksikan, harga kakao hingga akhir kuartal I/2018 akan bergerak positif di kisaran US$2.650-US$2.700 per ton.

Harga kakao pada penutupan perdagangan Jumat (23/3) menguat drastis sebesar 80 poin atau 3,16% menuju US$2.615 per ton, naik 4 sesi berturut-turut. Angka tersebut merupakan level tertinggi sejak 14 November 2016.

Harga telah berhasil bertahan di atas level US$2.000 sejak 1 Februari 2018. Bahkan saat ini mampu bergerak di atas U$2.600 per ton. Secara year to date (ytd), harga tumbuh 38,21%. Padahal, 2 tahun lalu harga telah mengalami kemerosotan 33% akibat kondisi pasar yang surplus.

Analis Asia Trade Point Futures (ATPF) Andri Hardianto menuturkan bahwa faktor fundamental kakao sangat mendukung penguatan harga, terutama dari faktor produksi yang diproyeksikan menurun di negara produsen papan atas dunia, yaitu Pantai Gading.

“Proyeksi penurunan produksi di Pantai Gading menjadi sentimen utama penguat harga kakao,” papar Andri kepada Bisnis, Senin (26/3/2018).

Pantai Gading merupakan produsen kakao terbesar di dunia yang memiliki kontribusi sekitar 40% dari total produksi kakao global sehingga dampak dari penurunan output akan rentan mempengaruhi harga global.

Jika bergabung dengan produsen terbesar kedua Ghana, total produksi keduanya mencapai 60% dari total output global.

Ghana dan Pantai Gading pada tahun lalu menjalin kerja sama bersama tentang kakao dengan tujuan mencari pengaruh arah keputusan pemangku kepentingan global terhadap komoditas tersebut, terutama yang mempengaruhi penetapan harganya.

Senada, berdasarkan informasi dari Dewan Kopi dan Kakao Pantai Gading (CCC), penguatan harga kakao terjadi beriringan dengan ekspektasi menurunnya produksi kakao di Pantai Gading sebesar 23% pada musim 2017/2018.

“Hasil panen kakao di Pantai Gading diperkirakan akan turun 23% pada musim ini karena hujan yang tidak mencukupi dan lahan yang tidak dirawat dengan baik,” papar CCC, dilansir dari Reuters.

Tim Penghitung CCC memproyeksikan, selama masa panen pertengahan April-September pada tahun ini maksimum produksi Pantai Gading mencapai 400.000 ton kakao, lebih kecil dibandingkan dengan 520.000 ton pada tahun lalu.

Beberapa narasumber yang diwawancarai oleh Reuters juga memiliki perkiraan serupa setelah meninjau hasil panen. Mereka memperkirakan hasil panen berkisar antara 380.000 ton-400.000 ton pada periode yang sama.

Hal tersebut ditopang oleh kondisi cuaca yang dinilai mengganggu produksi, terutama cuaca panas pada November-Maret.

“Proyeksi prosentase penurunan produksi Pantai Gading itu angka yang besar. Mereka tidak dapat memenuhi permintaan,” papar Andri.

Andri menambahkan, dari segi permintaan, pertumbuhan ekonomi telah mengakibatkan tingkat konsumsi masyarakat naik. Permintaan terbesar masih datang dari pembeli tradisional seperti Eropa dan Amerika, menyusul kenaikan permintaan dari China.

“Sentimen yang mendominasi memang dari segi pasokan,” tegas Andri.

Andri memproyeksikan harga kakao hingga akhir kuartal I/2018 akan bergerak positif di kisaran US$2.650-US$2.700 per ton. Namun, secara teknikal, harga berpotensi mengalami koreksi tipis kendati masih mendapatkan dukungan dari fundamental yang positif di samping dorongan dari kondisi cuaca.

Dalam situasi yang berbeda, Menteri Senior Ghana Yaw Osafo-Maafo mendesak pemerintah Ghana dan Pantai Gading untuk mengambil langkah-langkah dalam mempengaruhi harga kakao dunia.

Dorongan tersebut dinilai sama seperti upaya yang dilakukan anggota Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) dalam mengatur industri minyak.

“Kedua negara harus memiliki pengaruh pada harga kakao secara global, kita perlu memiliki aturan dalam industri kakao, selayaknya OPEC dalam mengatur minyak,” kata Maafo, seperti dilansir dari World Cocoa Foundation (WCF).

Harus ada strategi yang dapat mengendalikan kuantitas di pasar pada waktu tertentu sebab ketika ada terlalu banyak produk di pasar, harga komoditas akan jatuh, sementara ketika ada kelangkaan, harganya naik.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

kakao

Sumber : Reuters

Editor : Pamuji Tri Nastiti

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top