Penjualan Turun, Kinerja Q1 Emiten Rokok Cenderung Melambat

Bahana Sekuritas memperkirakan kinerja emiten rokok pada kuartal I/2018 mengalami perlambatan secara year-on-year (yoy) seiring dengan penurunan penjualan akibat kenaikan harga produk.
Hafiyyan | 22 Maret 2018 17:49 WIB
Pekerja PT HM Sampoerna Tbk melakukan aktivitas di pabrik sigaret kretek tangan (SKT) Sampoerna di Surabaya, Kamis (19/5/2016). - Antara

Bisnis.com, JAKARTA—Bahana Sekuritas memperkirakan kinerja emiten rokok pada kuartal I/2018 mengalami perlambatan secara year-on-year (yoy) seiring dengan penurunan penjualan akibat kenaikan harga produk.

Analis Bahana Sekuritas Michael Setjoadi menyampaikan, meski sinyal pemulihan ekonomi sudah mulai terlihat sejak semester dua tahun lalu, dampaknya belum berimbas positif terhadap industri rokok.

Sejumlah data menunjukan penjualan rokok sepanjang Januari 2018 turun secara yoy, walaupun belum bisa menjadi cerminan kinerja keseluruhan tahun ini.

Berdasarkan data yang dikumpulkan oleh PT Bahana Sekuritas, volume penjualan rokok secara industri turun sebesar 7% yoy menjadi 23,1 miliar batang pada Januari 2018 dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Sesuai dengan perkiraan Bahana, produsen rokok kecil mengalami volume penurunan yang lebih besar pada Januari 2018. Penjualan Djarum turun sebesar 11,7% yoy dan Norojono turun sebesar 19,6% yoy .

Adapun, volume penjualan PT Gudang Garam Tbk., (GGRM) merosot 4,8% yoy dan PT Hanjaya Mandala Sampoerna Tbk., (HMSP) terkoreksi 3,7% yoy.

“Penurunan ini baru terjadi satu bulan, jadi masih terlalu dini untuk menjadi cerminan keseluruhan tahun, kami masih akan menanti data-data pendukung lainnya,'' paparnya, Kamis (22/3/2018).

Akan tetapi, sambung Michael, jika dalam beberapa bulan ke depan volume penjualan tetap berada di kisaran 23 miliar batang, penjualan industri rokok pada kuartal II/2018 akan turun 2% yoy.

Menurutnya penurunan penjualan tidak terlepas dari naiknya harga jual rokok yang dilakukan oleh produsen untuk menutupi kenaikan cukai sebesar 10,04%. Kenaikan cukai diberlakukan oleh pemerintah sejak 1 Januari 2018.

Bahana memperkirakan produsen rokok tier 1, menaikkan rata-rata harga jual rokok sekitar 5%-5,5%. HMSP menaikkan rata-rata harga jual rokok sebesar 7% yoy pada kuartal I/2018, sedangkan GGRM hanya mengerek harga sekitar 4,3% yoy.

“Sentimen ini turut memengaruhi proyeksi perolehan laba perseroan,” tuturnya.

Michael mengestimasi pendapatan HMSP pada kuartal I/2018 naik 3,8%yoy, dan laba bersih meningkat 1,3% yoy menjadi Rp 3,33 triliun.

Tag : hmsp, ggrm
Editor : Pamuji Tri Nastiti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top