STRATEGI 2018: Ini Alasan Emiten Semen Lakukan Efisiensi Tahun Ini

Sejumlah emiten semen menjadikan efisiensi sebagai pilihan terakhir untuk menjaga profitabilitas pada tahun ini di tengah tekanan yang terus melanda industri akibat kelebihan pasokan.
M. Nurhadi Pratomo | 20 Maret 2018 00:07 WIB
Pekerja memindahkan semen ke atas kapal di Pelabuhan Paotere Makassar, Sulawesi Selatan, Rabu (29/11). - JIBI/Paulus Tandi Bone

Bisnis.com, JAKARTA— Sejumlah emiten semen menjadikan efisiensi sebagai pilihan terakhir untuk menjaga profitabilitas pada tahun ini di tengah tekanan yang terus melanda industri akibat kelebihan pasokan.

Dua emiten semen badan usaha milik negara (BUMN) yang telah merilis kinerja keuangan 2017, PT Semen Indonesia (Persero) Tbk. dan PT Semen Baturaja (Persero) Tbk., pada 2017, mengantongi laba bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk terendah dalam 5 tahun terakhir. 

Semen Indonesia misalnya, mengantongi laba bersih Rp2,01 triliun pada 2017. Jumlah tersebut turun 55,53% dibandingkan dengan tahun lalu senilai Rp4,52 triliun.

Sebenarnya, pendapatan emiten berkode saham SMGR itu tumbuh tipis 6,42 secara year on year. Pendapatan perseroan naik dari Rp26,13 triliun pada 2016 menjadi Rp27,81 triliun pada 2017.

Akan tetapi, kenaikan pendapatan tersebut lebih rendah dibandingkan dengan beban pokok pendapatan perseroan pada 2017. Tercatat, beban pokok pendapatan SMGR itu naik 22% dari Rp16,27 triliun pada 2016 menjadi Rp19,85 triliun pada 2017.

Corporate Secretary Semen Indonesia Agung Wiharto menjelaskan bahwa volume penjualan perseroan masih bisa tumbuh pada 2017. Akan tetapi, terjadi penurunan harga jual yang signifikan.

Agung mengatakan pertumbuhan pendapatan emiten berkode saham SMGR itu pada tahun lalu berasal dari anak usaha. Menurutnya, bisnis semen tidak mengalami pertumbuhan pada tahun lalu.

Tidak hanya sebatas harga jual yang tergerus, sambungnya, SMGR juga harus menanggung kenaikan biaya operasi. Hal tersebut akibat harga batu bara yang naik hampir 30%.

“Perseroan juga harus membayar utang perbankan dan obligasi yang mulai jatuh tempo,” ujarnya saat dihubungi, Senin (19/3/2018).

Dia mengatakan proyek infrastruktur yang dikebut pemerintah belum mendongkrak pendapatan perseroan. Pasalnya, kontribusi penjualan ke sektor tersebut hanya berkisar 12% terhadap pendapatan.

Sementara itu, imbuhnya, penjualan terbesar masih berasal dari ritel dengan kontribusi 75%. Harga yang terbentuk di sektor tersebut sangat dipengaruhi kondisi pasokan dan permintaan.

Untuk mengatasi hal tersebut, Agung menyebut perseroan belum berencana mengembangkan lini bisnis lain. Satu-satunya langkah yang ditempuh oleh SMGR yakni dengan melakukan efisiensi.

“Kami fokus melakukan efisiensi pada 2018 dengan target pertumbuhan diharapkan sejalan industri 5%-6%,” paparnya.

SMGR telah menyatakan akan menunda sejumlah rencana ekspansi anorganik termasuk akuisisi perseroan di luar negeri. Pasalnya, kelebihan pasokan tidak hanya di dalam negeri namun hingga pasar di Asia Selatan.

Emiten semen pelat merah lainnya, Semen Baturaja, menyatakan terbebani kenaikan harga batu bara pada 2017. Padahal, komponen biaya batu bara mencapai 30%-40% dari pengeluaran perseroan.

SMBR menyatakan tengah mengkaji opsi akuisisi tambang batu bara di Sumatra Selatan. Hal tersebut untuk menekan biaya energi pada 2018.

Direktur Utama Semen Baturaja Rahmad Pribadi mengatakan pihaknya akan melakukan sinergi dengan Semen Indonesia. Salah satunya untuk pemanfaatan jalur distribusi semen kedua perseroan pelat merah tersebut.

“Sinergi supply chain dengan memanfaatkan armada angkutan milik Semen Indonesia,” jelasnya saat dihubungi.

Di sisi lain, Antonius Marcos, Sekretaris Perusahaan PT Indocement Tunggal Perkasa Tbk. menjelaskan bahwa saat ini persaingan penjualan semen di beberapa daerah, seperti Jabodetabek dan Jawa Barat sangat ketat. Akibatnya, emiten berkode saham INTP itu belum dapat menaikan harga penjualan.

Untuk menghadapi persaingan tersebut, sambungnya, perseroan telah menyiapkan sejumlah strategi. Salah satunya, dengan menjalankan lini pabrik yang paling efisien.

Marcos mengatakan perseroan menjalankan lini pabrik P14 yang telah beroperasi penuh pada 2018. Sebagai gantinya, INTP menonaktifkan pabrik P1 dan pabrik P2 yang inefisien secara biaya.

Dengan strategi tersebut, sambungnya, kapasitas produksi perusahaan bertambah hingga 4,4 juta ton per tahun. Penggantian tersebut membuat perusahaan dapat menghemat biaya produksi Rp80.000-Rp100.000 per ton.

Di sisi lain, INTP juga tengah mengembangkan usaha di sektor aggregates untuk pasokan batu split, pasir, serta beton siap pakai. Kemudian, perseroan tengah mengembangkan pre-fabricated housing untuk menunjang pembangunan rumah dengan cepat dan biaya relatif murah.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
semen indonesia, semen

Editor : Riendy Astria

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top