Nusantara Infrastructure (META) Genjot Lini Bisnis Air Bersih

PT Nusantara Infrastructure Tbk. menggenjot bisnis air bersih pada 2018 untuk meningkatkan kontribusi lini bisnis tersebut terhadap laba bersih perseroan.
M. Nurhadi Pratomo | 27 Februari 2018 09:55 WIB
PT Nusantara Infrastructure Tbk. - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA — PT Nusantara Infrastructure Tbk. menggenjot bisnis air bersih pada 2018 untuk meningkatkan kontribusi lini bisnis tersebut terhadap laba bersih perseroan.

Danni Hasan, Chief Operating Officer Nusantara Infrastructure menjelaskan bahwa kontribusi bisnis air bersih terhadap laba bersih perseroan masih sangat kecil. Menurutnya, laba usaha yang dibukukan pada 2017 senilai Rp7 miliar.

Jumlah itu, sambungnya, berbanding terbalik dengan bisnis infrastruktur jalan tol yang menyumbangkan laba usaha Rp200 miliar dari pendapatan Rp413 miliar atau 54% dari total jumlah yang dikantongi perseroan pada 2017.

Dengan demikian, dia menyebut perseroan menargetkan pendapatan dari lini bisnis air bersih meningkat 40%-50%. Oleh karena itu, emiten berkode saham META itu akan meningkatkan kapasitas dua anak usaha yang mengelola bisnis air bersih.

“Diharapkan dengan peningkatan tersebut perseroan bisa meningkatkan volume penjualan,” ujarnya saat dihubungi Bisnis.com, Senin (26/2).

Sebagai catatan, META memiliki tiga anak usaha yang mengelola sektor air bersih yakni PT Tirta Kencana Cahaya Mandiri (TKCM), PT Sarana Catur Tirta Kelola (SCTK), dan PT Dain Celicani Cemerlang (DCC). Dua anak usaha, DCC dan SCTK, menjual air bersih ke kawasan industri sedangkan TKCM memasok air bersih ke konsumen rumah tangga.

Di sisi lain, Danni menjelaskan bahwa penyebab menurunnya laba bersih perusahaan pada 2017 disebabkan oleh adanya perubahan akuntasi untuk bisnis telekomunikasi. Selain itu, perseroan juga menanggung utang atas beban bunga dari pinjaman untuk lini bisnis telekomunikasi.

Dia menyebut beban bunga untuk lini bisnis telekomunikasi Rp123 miliar yang berasal dari utang Rp1 triliun. Jumlah itu lebih besar dibandingkan dengan bisnis tol dengan beban bunga Rp51 miliar.

“Kalau tidak ada perubahan akuntasi maka saya yakin laba bersih jauh di atas,” imbuhnya.

Berdasarkan data Bloomberg, harga saham META terkoreksi 2 poin atau 0,92% ke level Rp216 per lembar pada penutupan perdagangan, Senin (26/2). Total kapitalisasi pasar perseroan saat ini sebesar Rp3,29 triliun.

Analis Binaartha Sekuritas M. Nafan Aji Gusta Utama menjelaskan bahwa pergerakan harga saham META saat ini tidak terlalu likuid. Rentang pergerakan harga harian saham tersebut berada di level Rp212-Rp224 per lembar.

“[Untuk mingguan] range harga adalah Rp196 hingga Rp240. Adapun pegerakan harganya cenderung sideways,” jelasnya.

Tag : nusantara infrastructure
Editor : Ana Noviani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top