Permintaan Batu Bara China Masih Jadi Penopang Ekspor AS

Energy Information Administration (EIA) memproyeksikan, ekspor batu bara Amerika Serikat pada tahun ini akan meningkat 58% dari 2017 menjadi sekitar 86,2 juta ton dengan volume ke Asia hampir dua kali lipat menjadi sekitar 28,1 juta ton.
Eva Rianti | 21 Februari 2018 07:59 WIB
Pekerja beraktivitas di area pertambangan batu bara PT Adaro Indonesia, di Kabupaten Tabalong, Kalimantan Selatan, Selasa (17/10). - JIBI/Nurul Hidayat

Bisnis.com, JAKARTA–Energy Information Administration (EIA) memproyeksikan, ekspor batu bara Amerika Serikat pada tahun ini akan meningkat 58% dari 2017 menjadi sekitar 86,2 juta ton dengan volume ke Asia hampir dua kali lipat menjadi sekitar 28,1 juta ton.

Angka-angka itu sebagian besar dihitung dengan data pelacakan dan pelabuhan yang dikumpulkan oleh Thomson Reuters Supply Chain and Commodity Forecasts.

Seperti diketahui, salah satu janji utama Presiden AS Donald Trump dalam kemenangan 2016 ialah mengakhiri perang terhadap batu bara. Angka yang dirilis pekan lalu oleh EIA menunjukkan bahwa Trump telah mengalami beberapa keberhasilan.

“Produksi batubara A.S. melonjak paling banyak dalam 16 tahun mencapai 773 juta ton,” papar EIA yang dirilis pada 16 Februari lalu, seperti yang dilansir Reuters, Selasa (20/2/2018).

“Sejauh ini, sangat bagus untuk Trump. Tapi masalahnya adalah hampir semua kabar baik bagi produsen batu bara AS ada di sisi ekspor, dan ini terutama fenomena China,” lanjutnya.

Pada 2017, China membeli 5,95 juta ton batu bara AS, lebih dari dua kali lipat 2,8 juta dari tahun sebelumnya, sementara itu,India tetap menjadi tujuan utama Asia, dengan impor sebanyak 13 juta ton, naik dari capaian sebesar 8,7 juta pada 2016.

Adapun, Jepang tetap sedikit di depan China dengan mengimpor 6,9 juta ton batu bara AS pada tahun 2017, naik dari 5,2 juta ton yang dicapai pada tahun sebelumnya.

Angka-angka ini tidak menjelaskan secara eksplisit bahwa China adalah pendorong utama di balik ekspor batu bara AS yang sedang berkembang, namun pasar utama yang menggerakkan batu bara adalah permintaan impor China dengan kenaikan yang telah membantu harga batu bara termal tetap pada tingkat yang kuat.

Harga batu bara termal di bursa Newcastle berakhir di level US$103,88 per ton pada 2017, naik 10% dari level yang dicapai pada akhir 2016.

Untuk ekspor batu bara AS, agar kompetitif di Asia dan Eropa maka harga batu bara termal diperlukan minimal US$70 per ton, mengingat biaya penambangan, transportasi darat dan pengiriman di AS.

Permintaan impor China telah memastikan bahwa harga batu bara termal tetap berada di pasar spot untuk produsen AS yang memungkinkan mereka untuk bersaing di Eropa melawan ekspor dari Kolombia dan Afrika Selatan, dan juga di Asia.

Prospek untuk ekspor batubara AS sebagian besar bergantung pada harga, dan ini pada gilirannya sebagian besar merupakan fungsi dari seberapa banyak impor China.

Keseimbangan risiko saat ini adalah bahwa impor batu bara China akan cukup moderat tahun ini karena negara tersebut meningkatkan output domestik dan terus beralih ke bahan bakar yang kurang berpolusi seperti gas alam.

Namun, sejauh ini belum ada respons dari China untuk melakukan “pembalasan” terhadap batu bara atas proposal AS terkait pembatasan impor baja dan aluminium China.

Sumber : Reuters

Tag : batu bara
Editor : Pamuji Tri Nastiti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top