Aksi Jual Menghampiri Pasar Obligasi

Investor obligasi korporasi akhirnya ikut dalam aksi jual yang sempat menjatuhkan harga saham pada awal bulan ini. Hal itu terjadi karena investor panik dengan kenaikan suku bunga dari bank sentral AS segera terlaksana.
Dwi Nicken Tari | 16 Februari 2018 20:16 WIB
Obligasi Ritel Indonesia - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA—Investor obligasi korporasi akhirnya ikut dalam aksi jual yang sempat menjatuhkan harga saham pada awal bulan ini. Hal itu terjadi karena investor panik dengan kenaikan suku bunga dari bank sentral AS segera terlaksana.

Menurut laporan Bank of America Merrill Lynch yang mengutip dari data EPFR, investor telah menarik sebesar US$14,1 miliar dari dana kredit, peregangan terbesar kelima sejak 14 Februari 2018.

Obligasi dengan daya tinggi (high-yield) saja telah kehilangan sebesar US$10,9 miliar, dana keluar terbesar kedua sepanjang sejarah. Oleh karena patokan yields tresuri diperdagangkan di level keempat tertinggi, menyebabkan guncangan dalam fondasi dukungan utama untuk aset berisiko (tingkat rendah).

“Investor tidak menjual obligasi tunai mereka besar-besaran hingga mereka terpaksa. Hal ini terjadi ketika arus keluar (outflow) mulai meningkat secara berkelanjutan,” tulis analisis dari Morgan Stanley di dalam memo untuk klien, seperti dilansir dari Bloomberg  Jumat (16/2/2018).

Menurut analisis Morgan Stanley tersebut, leverage korporasi secara perlahan tengah mempersiapkan kehancuran pasar yang lebih luas. Sementara itu, tingkat suku bunga ril yang meningkat akan menurunkan nilai aset.

Analisis Morgan Stanley itu memproyeksikan adanya pengembalian negatif untuk obligasi korporasi di AS, Eropa, dan Asia pada 2018.  Mereka memperingatkan, perusahaan harus berjuang untuk membiayai ulang meningkatnya beban utang, layaknya kenaikan suku bunga dan arus gelombang “turis investor” yang berkecimpung dalam utang berisiko cenderung akan meninggalkan arena.

“Ini merupakan alarm pagi, bahwa bank-bank sentral akan segera menarik likuiditas, dan prosesnya tidak akan berjalan dengan lancar,” tulis mereka.

Pekan lalu, obligasi korporasi unggul (outperformed) yang dimiliki oleh investor jangka panjang tetap bertahan di tengah melonjaknya volatilitas saham dan isu kenaikan suku bunga. Premi berisiko dalam obligasi korporasi juga telah melebar 10 basis poin meskipun indeks saham global memicu sinyal pasar bearish.

Di sisi lain, peminjam  (borrowers) telah terjebak dalam penjualan utang baru setelah hiatus singkat di awal pekan ini. Di Eropa, jumlah emiten berisiko tinggi, termasuk perusahaan penyewa mobil di Jerman, Sixt SE, kembali ke pasar primer, Kamis (15/2), di tengah aktivitas peringkat investasi terus dilakukan.

Tag : Obligasi
Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top