Kinerja 10 Bulan Apik, DSFI Optimistis Raup Pendapatan Rp640 Miliar

Emiten perikanan PT Dharma Samudera Fishing Industries Tbk. (DSFI) meraih penjualan sebesar 6.902,54 ton dengan nilai Rp537,21 miliar sampai Oktober 2017. Dengan hasil tersebut, perusahaan optmistis mencapai target pendapatan Rp640 miliar.
Hafiyyan | 17 November 2017 16:05 WIB
Ilustrasi - bkipm.kkp.go.id

Bisnis.com, JAKARTA—Emiten perikanan PT Dharma Samudera Fishing Industries Tbk. (DSFI) meraih penjualan sebesar 6.902,54 ton dengan nilai Rp537,21 miliar sampai Oktober 2017. Dengan hasil tersebut, perusahaan optimistis mencapai target pendapatan Rp640 miliar.

Direktur Independen DSFI, Saut Marbun menuturkan dalam 10 bulan pertama 2017, perusahan merealisasikan pendapatan senilai Rp537,21 miliar. Angka itu didapatkan dari penjualan hasil olahan perikanan sebesar 6.902,54 ton.

Pendapatan tersebut naik 10,14% year on year (yoy) dari pencapaian per Oktober 2016 senilai Rp487.76 miliar. Saat itu, perseroan membukukan penjualan sejumlah 6.485,18 ton.

Penjualan ekspor sampai dengan Oktober 2017 sebesar 5.671,83 ton dengan nilai US$38,74 atau Rp516,94 miliar mendominasi total pemasaran. Jumlah ini naik dari realisasi 10 bulan pertama 2016 masing-masing 5.334,35 ton dan Rp467,35 miliar.

Adapun pendapatan dari pasar domestik per Oktober 2017 turun tipis 0,68% yoy menjadi Rp20,27 miliar dari realisasi sebelumnya Rp20,41 miliar. Padahal, volume penjualan di dalam negeri meningkat menuju 1.230,71 ton dari Oktober 2016 sebesar 1.150,83 ton.

“Dengan pencapaian dalam 10 bulan pertama 2017, perusahaan optimistis dapat meraih penjualan sesuai target,” tuturnya kepada Bisnis.com, Kamis (16/11/2017).

Pada 2017, DSFI membidik volume penjualan sebesar 8.431 ton senilai Rp640 miliar. Target ini naik 5,97% dari realisasi penjualan 2016 sejumlah Rp603,95 miliar.

Secara komposisi, sekitar 95% pendapatan perusahaan bersumber dari penjualan ekspor dan hanya 5% dari penjualan domestik. Pasar mancanegara yang paling besar ialah Amerika Serikat, Eropa, dan Jepang.

“Sebetulnya kami sudah merambah negara-negara lain. Tapi pusatnya di tiga wilayah itu. Misalnya, ketika perusahaan distribusi ke AS, sebetulnya itu sekalian dikirimkan juga ke Amerika Latin seperti Meksiko,” ujarnya.

Untuk memacu penjualan, perseroan memperluas pola kerja sama operasional (KSO) dengan kelompok nelayan di daerah. Tiga KSO baru yang dibentuk pada tahun ini berada di wilayah timur Indonesia seperti Bitung, Sulawesi Utara; Ternate, Maluku; dan Sorong, Papua Barat.

Keunggulan KSO dengan kelompok nelayan ialah perusahaan tidak perlu menyediakan pabrik dan cold strorage karena sudah difasilitasi oleh Pemerintah Daerah (Pemda) setempat.

Namun, pola kerja sama DSFI dengan nelayan ialah cash and carry atau memberikan uang lebih dahulu baru barang diberikan nantinya, sehingga sedikit berisiko.

“Tapi dengan belanja modal yang berkurang, dan pembelian hasil perikanan bisa mencapai 50 ton per bulan, kami cukup nyaman dengan pola kerja sama dengan kelompok nelayan,” paparnya.

Saut mengungkapkan, mulai Oktober 2017 perusahaan juga diuntungkan dengan musim melimpahnya ikan, sehingga harga bahan baku cenderung menurun. Situasi berbeda terjadi pada Juni—pertengahan September 2017, ketika hasil melaut tidak terlalu banyak sehingga mengatrol harga komoditas perikanan.

Penjualan hasil laut yang mayoritas diserap pasar ekspor turut memberikan tambahan pendapatan bagi perusahaan di tengah melemahnya rupiah. Namun, faktor tersebut tidak terlalu banyak mendongkrak kinerja dibandingkan peningkatan pemasaran itu sendiri.

Pada 2018, Saut meyakini penjualan DSFI semakin meningkat seiring dengan kuatnya penetrasi pasar perusahaan di mancanegara. Diperkirakan pendapatan dapat tumbuh 10% yoy menuju kisaran Rp700-an miliar.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
kinerja emiten

Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top