Jerman Hadapi Tantangan Perundingan Koalisi, Euro Melemah

Nilai tukar euro mematahkan reli penguatan selama dua hari berturut-turut setelah hari ini terpantau melemah 0,26% atau 0,0031 poin ke levgel US$1.1920 per euro.
Aprianto Cahyo Nugroho | 25 September 2017 06:49 WIB
Kanselir Jerman Angela Merkel. - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA – Mata uang Euro melemah hari ini, Senin (25/9/2017) di saat kemenangan Angela Merkel sebagai Kanselir Jerman dirusak oleh hasil yang lebih buruk dari perkiraan, yang dapat menimbulkan perundingan koalisi yang sulit.

Nilai tukar euro mematahkan reli penguatan selama dua hari berturut-turut setelah hari ini terpantau melemah 0,26% atau 0,0031 poin ke levgel US$1.1920 per euro.

Dilansir Bloomberg, Partai Demokrat Sosial (Social Democratic Party/SDP) memutuskan untuk tidak melakukan kesepakatan dengan Partai Persatuan Demokrat Kristen (Christian Democratic Union/CDU) pimpinan Merkel.

Hal ini membuat pembentuhakn pemerintah akan semakin menantang. Sebaliknya, Merkel harus bernegosiasi dengan Partai Demokrat Bebas (Free Democratic Party) yang pro-bisnis dan Partai Hijau/Aliansi 90 dan dapat memakan waktu berbulan-bulan.

Sementara banyak analis mata uang melihat euro akan berada di atas US$1,20 pada akhir tahun setelah kenaikan 13% sejak awal tahun, perundingan berlarut-larut untuk membentuk pemerintahan Jerman dapat membebani sentimen pasar.

FDP menentang integrasi Uni Eropa lebih lanjut, sementara masuknya partai anti-imigran Alternative for Germany ke parlemen dapat menekan Merkel dari dari kanan.

"Mata uang kurang likuid pada awal sesi di Asia dan aksi harga mungkin hanya awal dari koreksi yang lebih lanjut di mata uang euro saat ini," kata analis Credit Agricole SA, Valentin Marinov, seperti dilansir Bloomberg.

Hasil pemilihan dapat memicu larinya investor ke aset safe haven, yang dapat menguntungkan Swiss franc dan obligasi pemerintah Jerman. Franc telah melemah sekitar 8% terhadap euro tahun ini, sementara imbal hasil obligasi Jerman bertenor 10 tahun telah meningkat lebih dari dua kali lipat.

Tag : euro
Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top