Indeks Pertambangan Memerah, Ini Penyebabnya

Rencana pengaturan harga jual khusus untuk batu bara ke sektor ketenalistrikan mendorong indeks sektor pertambangan memerah. Meskipun, kondisi tersebut juga dipengaruhi oleh melemahnya harga batu bara di pasar global.
Lukas Hendra TM
Lukas Hendra TM - Bisnis.com 13 September 2017  |  16:41 WIB
Indeks Pertambangan Memerah, Ini Penyebabnya
Pengunjung mengamati papan elektronik yang menunjukkan pergerakan indeks harga saham gabungan 9IHSG), di gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Kamis (3/8). - JIBI/Dwi Prasetya

Bisnis.com, JAKARTA – Rencana pengaturan harga jual khusus untuk batu bara ke sektor ketenagalistrikan mendorong indeks sektor pertambangan memerah. Meskipun, kondisi tersebut juga dipengaruhi oleh melemahnya harga batu bara di pasar global.

Pada perdagangan, Rabu (13/9/2017), indeks sektor pertambangan terjerembab 4,45% ke level 1.454,32. Indeks sektor pertambangan mencatatkan penurunan paling tajam dibandingkan sektor lainnya.

Meskipun, hanya indeks sektor pertanian yang mencatatkan kenaikan. Akibatnya, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah 0,45% ke level 5.845,73. Sementara, harga batu bara di pasar Newscatle untuk pengiriman Oktober melemah 0,30% ke level US$98,10 per ton pada perdagangan hari itu.

Senior Analis PT Binaartha Sekuritas Reza Priyambada menilai pelemahan indeks sektor pertambangan dan anjloknya harga saham emiten pertambangan memang lebih disebabkan adanya pemberitaan terkait rencana pemerintah yang akan melakukan pengaturan harga penjualan batu bara untuk pembangkit listrik.

“Nah, pelaku pasar boleh dikatakan trauma dengan pengaturan harga semen dan harga gas yang diintervensi pemerintah sehingga pelaku pasar punya penilaian nantinya kinerja emiten-emiten batu bara akan terbatas sehingga mereka keluar pasar,” katanya saat dihubungi, Rabu (13/9/2017).

Sementara itu, analis Recapital Securities Kiswoyo berpendapat pelemahan tersebut memang lebih disebabkan oleh rencana pengaturan harga batu bara oleh pemerintah. Meskipun harga batu bara di pasar global juga mengalami pelemahan.

“Pasar lebih shock ke [peristiwa] domestik,” ujarnya saat dihubungi, Rabu (13/9/2017).

Rencana tersebut, lanjutnya, menimbulkan ketakutan di pasar setelah kemarin harga semen, gas dan beras juga dibatasi sehingga menimbulkan kekhawatiran akan tergerusnya margin dari emiten batu bara.

“Jika regulasi pemerintah untuk mengatur harga batubara yang digunakan oleh PLN, maka emiten yang akan terkenaimpact paling besar adalah PTBA [PT Bukit Asam Tbk.],” katanya.

Dia menambahkan porsi penjualan batu bara ke PT PLN (Persero) oleh PT Bukit Asam (Persero) Tbk. mencapai 60%, sedangkan PT Adaro Energy Tbk. (ADRO) dan PT Indo Tambangraya Megah Tbk. (ITMG) masing-masing mencapai 25% dan 15%. Adapun, lanjutnya, porsi penjualan batu bara ke PLN untuk PT Kideco Jaya Agung yang 46% sahamnya dikuasai oleh PT Indika Energy Tbk. (INDY) mencapai 46%.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
sektor pertambangan

Editor : Maftuh Ihsan

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top