Mata Uang Pound Sterling: Risiko Politik Masih Tekan Harga

Setelah mengalami rebound pada pekan lalu, mata uang pound sterling diperkirakan kembali mengalami pelemahan akibat tingginya risiko politik Inggris menjelang negosiasi Brexit.
Hafiyyan | 18 Juni 2017 16:10 WIB
Pound sterling. - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA - Setelah mengalami rebound pada pekan lalu, mata uang pound sterling diperkirakan kembali mengalami pelemahan akibat tingginya risiko politik Inggris menjelang negosiasi Brexit.

Pada perdagangan Jumat (16/6/2017), mata uang GBP naik 0,0025 poin atau 0,20% menuju 1,2783 per dolar AS. Ini menunjukkan pound sterling meningkat dalam 3 sesi berturut-turut. Sepanjang tahun berjalan harga tumbuh3,59%.

Sementara itu, indeks dolar merosot 0,269 poin atau 0,28% menjadi 97,164. Sepanjang tahun berjalan indeks terkoreksi 4,94%.

Analis Asia Trade Point Futures Andri Hardianto menyampaikan investor GBP akan berfokus pada dua agenda besar, yakni tahap awal negosiasi Brexit pada Senin (19/6) dan pernyataan resmi Gubernur Bank of England (BoE) Mark Carney pada Selasa (20/6). Negosiasi Brexit bisa menjadi sentimen negatif bagi pound sterling jika Partai Konservatif belum mendapatkan rekan koalisi di dalam parlemen.

Seperti diketahui, Partai Konservatif yang mengusung Perdana Menteri Theresa May belum mendapatkan kursi dominan di parlemen. Situasi tersebut menimbulkan ketidakstabilan politik baru di Inggris dan berdampak terhadap proses Brexit.

Sementara pernyataan Mark Carney yang paling ditunggu pasar ialah prospek suku bunga yang saat ini berada di level 0,25%. Pekan lalu, BoE memang sudah setuju mempertahankan suku bunga di level tersebut. Namun, perbedaan suara Monetary Policy Committee (MPC)cukup tipis, yakni 5 suara setuju bertahan dan 3 suara menginginkan kenaikan suku bunga.

"Sangat menarik melihat pernyataan Carney nantinya. Namun, sentimen politik masih mendominasi GBP, sehingga sangat besar potensi pound sterling kembali tertekan pekan depan [pekan ini]," ujarnya saat dihubungi Bisnis, Minggu (18/6).

Andri memprediksi dalam sepekan ini harga bergerak di antara 1,25460-1,28840 per dolar AS. Rentang harga cukup lebar menandakan GBP berpeluang bergerak volatil.

Research Analyst FXTM Lukman Otunuga menyampaikan pergerakan kurs GPB yang bearish sejak hasil pemilu Jumat (9/6) menyiratkan bahwa para investor mungkin berubah pikiran terhadap mata uang tersebut. Upaya Theresa May untuk memperkuat kuasanya menjelang negosiasi Brexit ternyata justru berbalik arah. 

"Terlepas dari peningkatan yang terjadi saat ini, GBP tetap rentan mengalami penurunan tajam karena prospek cenderung negatif mengingat ketidakstabilan politik di Inggris sangat mengganggu mata uang ini.  Situasi serba tidak pasti ini akan membuat investor gelisah karena mempertanyakan dampak hasil pemilu ini terhadap negosiasi Brexit," paparnya dalam riset, Jumat (16/6).

Dari sudut pandang teknikal, GBP-USD sangat bearish di grafik harian. Level support sebelumnya di sekitar 1,2775 per dolar AS dapat berubah menjadi resistance dinamis yang membuka jalan menuju 1,2600 per dolar AS.

 

Tag : pound sterling
Editor : Riendy Astria

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top