Smelting Baru Kembali Beroperasi 85%

PT Smelting belum sepenuhnya kembali beroperasi pasca berhentinya kegiatan operasional pada awal tahun ini.
Annisa Sulistyo Rini | 18 Maret 2017 03:31 WIB
Wakil Gubernur Jatim Saifullah Yusuf (tengah), berbincang dengan Presiden Direktur PT Smelting Hiroshi Kondo (kanan), dan Plant Manager PT Smelting Antonius Prayoga (kiri) di kawasan pabrik PT Smelting di Gresik, Jumat (17/3/2017) - Bisnis/Annisa Rini

Bisnis.com, GRESIK—PT Smelting belum sepenuhnya kembali beroperasi pasca berhentinya kegiatan operasional pada awal tahun ini.

Plant Manager Smelting Antonius Prayoga mengatakan saat ini kegiatan operasional perusahaan baru sekitar 85% dari biasanya. Hal ini disebabkan setelah berhenti beroperasi sekitar satu bulan lebih, perseroan harus memulai operasi kembali secara perlahan, terutama karena banyak karyawan yang baru.

“Kami lihat satu bulan ke depan, kalau lancar akan kami tingkatkan pelan-pelan sampai 100%,” ujarnya di Gresik, Jumat (17/3/2017).

Smelting adalah pabrik pemurnian yang sahamnya dimiliki oleh Mitsubishi Materials sebanyak 60,5%,PT Freeport Indonesia sebesar 25%, 9,5% oleh Mitsubishi Corporation Unimetal Ltd, serta 5% oleh Nippon Mining and Metals Co, Ltd. Pada 19 Januari 2017, perusahaan sempat berhenti beroperasi sejak 19 Januari 2017 karena kekurangan tenaga kerja.

Presiden Direktur Smelting Hiroshi Kondo mengatakan, penghentian kegiatan operasional tersebut khususnya untuk pabrik peleburan (smelter) dan pabrik asam sulfat (acid plant). Namun, bagian lainnya, yaitu pabrik pemurnian (refinery) tetap beroperasi dengan kapasitas 50% dengan memanfaatkan stok anoda tembaga yang ada.

"Kami memohon maaf karena smelter pengolah tembaga ini sempat berhenti operasi selama satu bulan lebih. Peristiwa itu sangat tidak kami harapkan, karena kami tahu bahwa terhentinya produksi tersebut ikut mempengaruhi kinerja ekonomi dan neraca perdagangan Jawa Timur," ujarnya.

Selama ini, Smelting telah berkontribusi terhadap neraca perdagangan Jatim karena 60% dari total produksi katoda tembaga diekspor ke luar negeri. Sementara, 40% produk diserap industri dalam negeri.

Selain itu, operasional Smelting juga telah memasok 100% kebutuhan asam sulfat untuk perusahaan pupuk yang ada di Gresik. Adapun, produk samping perseroan, yaitu copper slag atau terak tembaga digunakan oleh semua pabrik semen di seluruh Jatim.

Hiroshi juga menuturkan perusahaan menyerap 40% bahan baku konsentrat produksi PT Freeport di Papua.

"Perusahaan kami ini mengolah bahan baku alam yang diambil dari bumi Indonesia. Ini artinya, keberadaan pabrik ini telah memberi nilai lebih bagi sumberdaya alam yang ada di Indonesia," ujarnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
tembaga

Editor : Andhika Anggoro Wening

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top