Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Ekspor Indonesia Turun, Harga Timah Berpeluang ke US$20.000 per ton

Membaiknya fundamental timah akibat menurunnya ekspor dari Indonesia dan naiknya permintaan China dapat membuat harga mencapai level US$20.000 per ton pada sisa tahun 2016.
Hafiyyan
Hafiyyan - Bisnis.com 07 September 2016  |  15:18 WIB
Timah - Bisnis.com
Timah - Bisnis.com

Bisnis.com, JAKARTA-- Membaiknya fundamental timah akibat menurunnya ekspor dari Indonesia dan naiknya permintaan China dapat membuat harga mencapai level US$20.000 per ton pada sisa tahun 2016.

Pada penutupan perdagangan Selasa (6/9) harga timah di bursa London Metal Exchange (LME) naik 0,28% atau 55 poin menjadi US$19.450 per ton. Angka tersebut menunjukkan sepanjang tahun berjalan harga timah sudah meningkat 33,63% dan mencapai level tertinggi sejak Januari 2015.

Wahyu Tribowo Laksono, Analis Central Capital Futures, menyampaikan pemulihan harga timah pada tahun ini didukung dua faktor utama, yakni menurunnya ekspor dari Indonesia dan aktivitas restocking di China. Harga terus meningkat dari US$13.500 per ton pada semester II/2015 seiring dengan naiknya permintaan signifikan dari China.

PT Timah (persero) Tbk. dan Asosiasi Eksportir Timah Indonesia (AETI) memperkirakan ekspor timah Indonesia pada 2016 sekitar 60.000-66.000 ton. Angka ini jatuh dari pencapaian pada 2013, 2014, dan 2015 yang masing-masing berkontribusi 91.600 ton, 80.000 ton, serta 70.000 ton.

Menurut Wahyu, proyeksi tersebut juga didasarkan pada ekspor periode Januari-Mei 2016 sebesar 21.999 ton, anjlok 29% dari lima bulan pertama 2015 sejumlah 31.041 ton. Pengurangan pasokan dari Negeri Garuda membuat pasar timah global lebih seimbang.

Stok timah di LME pada tahun ini diperkirakan turun menjadi sekitar 6.000 ton, dibandingkan 2015 sebesar 12.165 ton. Adapun persediaan di Shanghai Future Exchange (SHFE) berkisar 3.000 ton, merosot dari puncaknya sejumlah 4.488 ton pada pertengahan Mei 2016.

Dalam waktu dekat, harga timah terdorong oleh membaiknya data manufaktur PMI China dan pelemahan dolar AS akibat memburuknya data tenaga kerja. Indeks manufaktur China naik ke posisi 50,4 per Agustus 2016 dari sebelumnya 49,9 pada Juli 2016. Sementara itu, data tenaga kerja Paman Sam turun ke 151.000, dibandingkan Juli sebesar 275.000.

Secara teknikal, Wahyu memperkirakan harga timah berjangka dapat menuju level US$19.500-US$20.000 per ton, dengan area support U$18.600-US$16.500 per ton.

"Sampai akhir tahun harga timah masih sedikit bullish dengan target baru US$20.000 per ton," ujarnya kepada Bisnis.com, Rabu (7/9/2016).

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

pt timah tbk timah harga timah ekspor timah
Editor : Gita Arwana Cakti
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top