Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

LOGAM INDUSTRI: Pelemahan Dolar Pacu Permintaan, Tembaga Menguat ke Level Tertinggi

Harga tembaga menguat 0,55% atau 1,15 poin ke US$210,05 per pound pada pukul 14.24 WIB setelah dibuka dengan penguatan 0,12% di posisi US$209,15 per pound.
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 07 September 2016  |  15:14 WIB
 Tembaga - Reuters
Tembaga - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA – Pergerakan harga tembaga kontrak Desember 2016 terpantau berlanjut menguat ke level tertinggi dalam dua pekan pada perdagangan siang ini, Rabu (7/9/2016), seiring pelemahan dolar AS yang memacu permintaan untuk komoditas.

Harga tembaga menguat 0,55% atau 1,15 poin ke US$210,05 per pound pada pukul 14.24 WIB setelah dibuka dengan penguatan 0,12% di posisi US$209,15 per pound.

Pada perdagangan kemarin (Selasa, 6/9/2016), harga tembaga ditutup dengan penguatan 0,53% atau 1,10 poin ke posisi 208,90.

Seperti dilansir Reuters hari ini, aktivitas sektor jasa AS melambat ke level terendah dalam lebih kurang 6 1/2 tahun pada Agustus di tengah penurunan tajam pada produksi dan pesanan.

Rilis data tersebut menunjukkan perlambatan pertumbuhan ekonomi AS yang lebih lanjut mengurangi prospek kenaikan tingkat suku bunga oleh The Fed bulan ini. Pergerakan indeks dolar AS mengalami penurunan terbesar dalam lima pekan pasca rilis data industri jasa AS kemarin.

Indeks dolar AS yang melacak pergerakan dolar terhadap sejumlah mata uang utama siang ini masih bergerak negatif meski hanya turun tipis 0,02% atau 0,16 poin ke level 94,807 pada pukul 14.25 WIB.

Namun di sisi lain, para analis memperkirakan efek dolar pada permintaan tidak akan bertahan lama mengingat membanjirnya suplai pada tambang baru.

“Kami kembali melihat bahwa [harga] tembaga dan aluminium pada paruh kedua 2016 diperkirakan akan bergerak lebih rendah akibat kombinasi pertumbuhan permintaan yang melambat serta kenaikan suplai, sementara seng dan nikel akan naik karena faktor suplai tertentu,” papar Goldman Sachs dalam risetnya.

Sementara itu, menurut pernyataan pemerintah China, negara tersebut akan meningkatkan langkah kebijakan fiskal proaktif melihat harga komoditas yang relatif rendah saat ini. Hal tersebut dapat mendukung harga logam dalam jangka menengah karena harga logam sangat sensitif pada perputaran kredit di China.

Sejalan dengan tembaga, pergerakan harga nikel dan timah di Shanghai Futures Echange juga terlihat positif pada perdagangan hari ini.

Harga nikel untuk kontrak Januari 2017 ditutup turun menguat 0,57% atau 460 poin ke 80.840 yuan/metrik ton setelah dibuka dengan penguatan di level 80.910. 

Adapun harga timah kontrak Januari 2017 berakhir naik tipis 0,02% atau 30 poin ke 127.350 yuan/metrik ton setelah dibuka menguat 0,46% atau 580 poin di level 127.900.

 

Pergerakan tembaga di Comex (Commodity Exchange) untuk kontrak Desember 2016:

Tanggal

Level

Perubahan

7/9/2016

(Pk. 14.24 WIB)

210,05

+0,55%

6/9/2016

208,90

+0,53%

5/9/2016

-

-

2/9/2016

207,80

+0,12%

1/9/2016

207,55

-0,10%

Sumber: Bloomberg

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

nikel harga tembaga harga timah logam industri
Editor : Gita Arwana Cakti
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top