Produksi Beras Dunia Anjlok, Harga Tak Akan Melonjak

Tiga produsen beras terbesar di dunia, yakni India, Thailand, dan Vietnam terancam mengalami penyusutan produksi hingga akhir 2016. Namun, harga diperkirakan tidak akan melonjak tajam seiring dengan masih banyaknya stok di tahun-tahun sebelumnya.
Hafiyyan | 02 Mei 2016 18:48 WIB
Beras - JIBI/Dedi Gunawan

Bisnis.com, JAKARTA - Tiga produsen beras terbesar di dunia, yakni India, Thailand, dan Vietnam terancam mengalami penyusutan produksi hingga akhir 2016. Namun, harga diperkirakan tidak akan melonjak tajam seiring dengan masih banyaknya stok di tahun-tahun sebelumnya.

Setelah hampir satu dekade mengalami lonjakan harga, produsen-produsen terbesar di Asia, menderita kekeringan akibat pola cuaca El Nino yang memangkas produksi. Hal tersebut tentunya berpengaruh terhadap masyarakat di Benua Kuning atau sekitar 50% penduduk dunia.

James Fell, Economist International Grains Council (IGC), mengatakan India sebagai produsen terbesar masih mengalami gelombang panas, sedangkan Thailand juga mengalami kekeringan selama dua tahun berturut-turut. Lahan pertanian di Vietnam, sebagai pemasok beras ketiga terbesar, mengalami hambatan akibat irigasi dari Sungai Mekong terhambat.

Tiga negara tersebut memasok 60% perdagangan beras global atau sekitar 43 juta ton.  "Sampai sekarang kami belum melihat reaksi harga yang terlalu besar akibat cuaca panas dan kering, karena adanya stok besar di India dan Thailand. Namun, itu tidak bisa bertahan selamanya," tuturnya seperti dikutip dari Reuters, Senin (2/5/2016).

Berdasarkan kalkulasi Reuters berdasarkan data U.S. Department of Agriculture (USDA), persediaan beras ketiga negara tersebut akan merosot hingga 19 juta ton pada akhir 2016. Angka ini menjadi penurunan terbesar sejak 2003.

Pada perdagangan Senin (2/5) pukul 18:15 WIB harga beras kasar (RR1) meningkat 0,83% atau 0,90 poin ke level US$10,93 per kuintal. Para investor memprediksi peningkatan harga akan berlanjut.

James menyampaikan, setiap gangguan pasokan dalam jumlah besar dapat membuat pasar menjadi sangat sensitif. Pada 2008, produksi beras yang rendah di Asia akibat El Nino membuat India memberhentikan ekspor. Akibatnya, harga sempat meroket dan membuat panik importir besar seperti Filipina.

Dalam tahun yang sama, harga beras Thailand mencapai rekor tertinggi ke level US$1.000 per ton. Hal ini menyebabkan meningkatnya permintaan untuk komoditas biji-bijian lainnya seperti gandum, kedelai, dan jagung.

Laporan Bank Dunia menyebutkan, harga beras di Thailand pada 2016 terkoreksi 2,85% menjadi US$375 per ton dibandingkan tahun sebelumnya sebesar US$386 per ton. Sentimen utama yang memengaruhi harga ialah pola cuaca kering yang menyerang wilayah Asia, harga minyak mentah, dan pergerakan dolar AS.

Pada musim 2015-2015, jumlah pasokan global mencapai 470,6 juta ton, turun dari musim sebelumnya sejumlah 478,8 juta ton. China menjadi produsen terbesar sebanyak 145,8 juta ton, disusul India sebanyak 103 juta ton, dan Indonesia sebesar 35,3 juta ton.

Total ekspor di periode 2015-2016 berjumlah 41,6 juta ton, dengan kontribusi terbanyak dari Thailand (10 juta ton), India (9 juta ton), dan Vietnam (7 juta ton). Adapun kapasitas impor hanya mencapai 39,6 juta ton, dengan China sebagai konsumen terbesar yang menyerap 5 juta ton.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Harga Beras

Editor : Martin Sihombing

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top