Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

AKSI KORPORASI EMITEN KONSUMER: Realisasi Serapan Anggaran Jadi Patokan

Emiten konsumer diprediksi masih akan menahan langkah ekspansi hingga akhir kuartal I/2016, karena menunggu data pergerakan daya beli masyarakat sebagai dampak dari penyerapan belanja negara pada tahun lalu.
Penyumbang keyakinan tersebut yakni jumlah penduduk, pertumbuhan golongan muda dan kalangan kelas menengah, serta masih rendahnya tingkat konsumsi per kapita pada segmen yang disasar.
Penyumbang keyakinan tersebut yakni jumlah penduduk, pertumbuhan golongan muda dan kalangan kelas menengah, serta masih rendahnya tingkat konsumsi per kapita pada segmen yang disasar.

Bisnis.com, JAKARTA—Emiten konsumer diprediksi masih akan menahan langkah ekspansi hingga akhir kuartal I/2016, karena menunggu data pergerakan daya beli masyarakat sebagai dampak dari penyerapan belanja negara pada tahun lalu.

Head of Research NH Korindo Securities Indonesia Reza Priyambada mengatakan dengan adanya peningkatan indeks keyakinan konsumen (IKK) yang melampaui level optimis pada akhir tahun lalu, tak berarti secara hakikat masyarakat mulai meningkatkan konsumsinya. Sebab, masyarakat cenderung meningkatkan konsumsinya menjelang masa libur panjang pada akhir tahun.

Untuk itu, menurut Reza, emiten konsumer besar umumnya tak langsung agresif melihat kenaikan IKK tersebut. Para pemain besar di sektor konsumer, tambahnya, masih akan menunggu hasil implementasi peningkatan belanja negara ke daya beli masyarakat.

“Jadi pada tahun ini, emiten konsumer masih akan melihat adakah peningkatan daya beli masyarakat pada Maret atau April untuk memutuskan langkah ekspansi selanjutnnya,” jelas Reza kepada Bisnis.com.

Pada pembukaan perdagangan tahun ini, Presiden RI Joko Widodo memang membawa angin segar dengan menyampaikan realisasi pendapatan dan penyerapan belanja negara.

Dalam pidatonya, Jokowi menyebut pada 2015, pendapatan negara berhasil mencapai 84,7% atau Rp1.491 triliun. Rinciannya, penerimaan pajak mencapai 83% atau senilai Rp1.235,8 triliun, penerimaan non-pajak 93,8% atau Rp252,4 triliun, dan penerimaan hibah Rp53 triliun.

Kemudian, Jokowi juga memaparkan serapan belanja negara mencapai 91,2% hingga akhir tahun lalu atau senilai Rp1.810 triliun.

Reza menilai penyerapan tersebut memang besar dan patut diapresiasi. Kendati begitu, dia menyayangkan penyerapan anggaran tersebut baru terjadi di akhir tahun. Akibatnya, dampak penyerapan belanja negara belum bisa terlihat pada 2015.

“Nanti lihat di kuartal I/2016 dampak realisasi belanja negara tersebut. Apakah daya beli dan spending masyarakat akan naik atau tidak,” paparnya.

Jika hingga kuartal I/2016 penyerapan belanja negara belum mampu mengerek daya beli masyarakat, Reza memproyeksikan emiten sektor konsumsi masih berpeluang melanjutkan strategi konservatif yang berlaku pada tahun lalu. “Kalau tak banyak perubahan, maka kondisi dan strategi pada tahun lalu bisa berulang lagi.”

Analis Investa Saran Mandiri Kiswoyo Adi Joe menuturkan emiten konsumer, perbankan, dan semen masih menjadi pilihan pada tahun ini. “Tapi tetap akan melihat realisasi penyerapan anggaran termasuk pembangunan infrastruktur,” katanya.

Sebelumnya, External Relations Director & Corporate Secretary PT Unilever Indonesia Tbk. Sancoyo Antarikso mengatakan dalam jangka menengah hingga panjang, perusahaan masih meyakini adanya peluang besar di Tanah Air untuk sektor konsumsi.

Dia merinci penyumbang keyakinan tersebut yakni jumlah penduduk, pertumbuhan golongan muda dan kalangan kelas menengah, serta masih rendahnya tingkat konsumsi per kapita pada segmen yang disasar Unilever Indonesia.

Meski begitu, Sancoyo juga tak menampik fakta perlambatan pertumbuhan ekonomi Indonesia dan depresiasi rupiah terhadap dolar Amerika turut berdampak pada bisnis perusahaan. “Karena itu, tahun ini kami memilih untuk fokus pada konsumer kami dan memenuhi kebutuhan mereka,” jelas Sancoyo.

Adapun, data Bank Indonesia (BI) menunjukkan IKK pada Desember 2015 terkerek ke level 107,5, atau naik 3,8 poin dari bulan sebelumnya. BI merekam tingkat keyakinan konsumen di Indonesia tersebut mulai kembali ke level optimis atau di atas 100 sejak November 2015.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Editor : Fatkhul Maskur
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper