Realisasi Buyback Masih Rendah, OJK Tetap Optimistis

Meskipun realisasi dari rencana pembelian kembali (buyback) saham masih rendah, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) optimistis relaksasi yang dikeluarkan pada Agustus 2015 akan berjalan dengan efektif.
Riendy Astria | 24 September 2015 23:14 WIB
Ketua Dewan Komisioner OJK Muliaman D. Hadad - Bisnis.com

Bisnis.com, JAKARTA - Meskipun realisasi dari rencana pembelian kembali (buyback) saham masih rendah, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) optimistis relaksasi yang dikeluarkan pada Agustus 2015 akan berjalan dengan efektif.

OJK mencatat sejak dikeluarkannya Surat Edaran No.22/2015 pada 21 Agustus 2015 tentang kondisi lain sebagai kondisi pasar yang berfluktuasi secara signifikan dalam pelaksanaan pembelian kembali saham yang keluarkan oleh emiten/perusahaan publik, sudah 19 perusahaan menyatakan akan melakukan pembelian kembali saham.

Adapun, rencana dana yang akan dikeluarkan oleh 19 emiten tersebut mencapai Rp5 triliun. Namun, realisasi dari rencana dana yang akan dikeluarkan tersebut masih minim, yakni sekitar Rp37,32 miliar (per 16 September 2015).

Bila diperinci, sekitar Rp27,57 oleh PT Ramayana International Lestari Tbk. (RALS), PT Ace Hardware Indonesia Tbk. (ACES) Rp9,21 miliar, dan PT Nippon Indosari Corpindo Tbk. senilai Rp540 juta.

Menjawab hal itu, Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK Nurhaida mengatakan ada kemungkinan realisasi dari rencana buyback emiten tersebut terhalang oleh kondisi yang penuh ketidakpastian saat ini. Hal ini, membuat sejumlah emiten memperhitungkan kembali kapan waktu yang tepat.

“Masing-masing pihak punya perhitungan. Mungkin dilihat kondisi pasar masih akan turun karena memang masih ada ketidakpastian,” kata Nurhaida pada Selasa (22/9/2015).

Sementara itu, Ketua Dewan Komisioner OJK Muliaman D. Hadad optimistis relaksasi ini akan efektif melihat pengalaman pada 2013 lalu. Dia optimistis perusahaan yang bakal merealiasikan rencana buyback bakal menjalankannya dengan maksimal.

“Saya rasa untuk sekarang realisasi sudah cukup banyak, mungkin memang kecil-kecil masuknya, masih ada waktu dan cukup optimistis. Saat 2013 cukup efektif sehingga kita buka lagi,” kata Muliaman.

Dia menilai memang ada kemungkinan saat ini emiten masih melihat kondisi pasar. Namun demikian, OJK bisa segera mencabutnya bila kondisi pasar normal kembali.

Sebelumnya, Alfred Nainggolan, analis PT Koneksi Kapital, memperkirakan setelah ada kepastian dari The Fed soal suku bunga acuan AS, barulah terjadi percepatan aksi buyback saham. Dia menilai realisasi buyback yang baru 0,75% dari target Rp5 triliun memang lambat.

"Kondisi perekonomian melambat dan ketidakpastian belum berlalu. Karena itu, investor belum mengambil putusan, termasuk anchor buyer," kata Alfred.

Menurutnya, emiten agak kesulitan untuk mendapatkan investor utama yang berani melepas saham di saat pasar seperti ini. Pun tak mudah berharap dari investor ritel dan investor institusi.

"Pascapengumuman The Fed, baru ada percepatan buyback. Investor institusi domestik dan global pasti tunggu dulu," kata Alfred.

Tag : ojk
Editor : M. Syahran W. Lubis

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top